Telah dijelaskan oleh para ulama yang telah
melakukan penelitian, bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga yaitu Tauhid
Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ wa Shiffat
A. Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah
dalam seluruh perbuatan-Nya seperti menciptakan, memelihara dan sebagainya.
Allah berfirman:
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”
(Terj. Al-Fatihah: 2)
Dan sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam:
أنت رب اسموات ولأرض
Artinya: “Engkaulah Rabb langit dan bumi.”
(Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim)
B. Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah dalam
beribadah seperti berdo’a, menyembelih kurban, bernadzar dan sebagainya. Allah
berfirman:
وَإِلَـهُكُمْ
إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Dan Ilahmu itu adalah ilah yang satu, tidak
ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
(Terj. Al-Baqarah: 163)
Dan sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam:
فليكن أول ماتدعوهم إليه شهادة أن لاإله إلا الله
Artinya: “Maka hendaklah yang pertama kamu serukan
kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah
kecuali Allah.” (Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Bukhari:
إلي أن يواحدوا الله
Artinya: “Sampai mereka mentauhidkan Allah.”
C. Tauhid Asma’ wa Shiffat
Tauhid Asma’ dan Sifat adalah menetapkan semua
sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sebagaimana
Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam mensifati-Nya dalam hadits shohih sesuai dengan
hakekatnya tanpa ta’wil, tafwidh, tamtsil, dan tanpa ta’thil (*), seperti
istiwa’, turun (ke langit dunia), dan lain-lain yang menuju pada
kesempurnaan-Nya.
Allah berfirman:
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia,
sedang Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Terj. Asy-Syura: 11)
Dan sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam:
ينزل الله في كل ليلة في سماء الدنيا
Artinya: “Allah turun ke langit dunia pada setiap
malam.” (Hadits shohih riwayat Muslim)
Maksudnya, turunnya Allah itu sesuai dengan
kemuliaan-Nya, tidak menyerupai turunnya salah satu dari makhluk-Nya.
(*)
1. Ta’wil di sini yang dimaksud
sesungguhnya adalah tahriif. Ahlul bid’ah sengaja menyebut diri mereka ahli
ta’wil untuk melariskan kebid’ahan mereka. Padahal pada hakekatnya semua itu
adalah tahriif. Arti tahriif adalah merubah lafazh (teks) dan makna
(pengertian) nama-nama atau sifat-sifat Allah, seperti pernyataan golongan
Jahmiyah (pengikut Jahm bin Sofwan) mengenai Istawa yang mereka ubah menjadi Istawla
(menguasai), dan sebagian ahli bid’ah lain yang menyatakan arti al-ghadhab
(marah) bagi Allah adalah kehendak untuk menyiksa, dan makna ar-rahmah
adalah kehendak memberi nikmat. Semua ini adalah tahriif. Yang pertama tahriif
lafzhi (tekstual) dan yang berikutnya adalah tahriif secara makna.
2. Tafwidh artinya menyandarkan
makna atau interpretasi dari kalimat-kalimat yang menunjukkan nama dan sifat
Allah Ta’ala kepada Allah. Misalnya, kalimat يذ الله (tangan Allah), yang mengetahui maknanya
adalah Allah. Pernyataan ini adalah ucapan ahlul bid’ah yang paling buruk.
Tidak ada satupun salafus shaleh yang berbuat demikian. Bahkan seperti yang
ditegaskan oleh Imam Malik ketika ditanya, bagaimana istiwa’ itu? Beliau
menjawab, istiwa’ sudah kita ketahui maknanya, al-kaifu (bagaimana hakekatnya)
tidak dikenal, beriman bahwa Allah istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy hukumnya
wajib. Mempertanyakan bagaimana (hakekat bentuknya) adalah bid’ah.
3. Tamtsil artinya menyerupakan
atau menyamakan. Maksudnya menetapkan adanya sifat-sifat Allah dan menyatakan
sifa-sifat itu sama dengan sifat makhluk-Nya. Sedangkan prinsip Ahlus Sunnah
dalam menyatakan bahwa Zat Allah tidak sama seperti zat kita atau mirip zat
kita dan seterusnya. Begitupula dengan sifat-Nya. Ahlus Sunnah tidak mengatakan
bahwa sifat Allah seperti sifat yang ada pada kita. Kita tidak akan mengatakan
tangan-Nya seperti tangan kita, kaki-Nya seperti kaki kita dan seterusnya.
Namun wajib atas setiap mu’min untuk tetap berpedoman dengan firman Allah:
ليس كمثله شي ء
Artinya: “Tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.”
(Terj. Asy-Syura: 11)
Dan:
هل تعلم له سميا
Artinya: “Adakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?”
(Terj. Maryam: 65)
Adapun maksud kedua ayat ini adalah bahwasanya
tidak ada satupun yang menyerupai dan menyamai-Nya.
4. Ta’thil artinya meniadakan dan
menghapus atau mengingkari semua sifat dari Allah. Jahmiyah dan orang-orang
yang mengikutinya melakukan hal ini. Karena itulah mereka dinamakan juga
Mu’aththilah (pelaku ta’thil). Pendapat mereka ini sangat jelas kebaitlannya.
Tidak mungkin di dunia ini ada satu zat yang tidak mempunyai sifat. Al-Qur’an
dan As-Sunnah menyebutkan adanya sifat-sifat Allah itu dan sesuai dengan
keagungan dan kemuliaan-Nya.
5. Takyiif yang artinya mempertanyakan
‘bagaimana bentuk hakekat’ sifat Allah yang sesungguhnya. Maka diantara prinsip
Ahlus Sunnah dalam masalah sifat ini adalah tidak mempertanyakan: Bagaimana
istawa’ Allah, bagaimana tangan-Nya, bagaimana wajah-Nya? Dan seterusnya.
Karena membicarakan sifat itu sama halnya dengan membicarakan zat. Sehingga,
sebagaimana Allah mempunyai Zat yang tidak kita ketahui hakekat bentuknya, maka
demikian pula sifat-sifat-Nya, kita tidak mengetahui bagaimana hakekat dan
bentuk atau wujud sifat itu sesungguhnya. Dan juga karena tidak ada yang
mengetahui hal itu kecuali Allah, maka semua itu harus diiringi pula dengan
keimanan kita terhadap hakekat maknanya. (Maksudnya, arti kata dari sifat itu
kita ketahui tapi hakekat bentuk atau wujudnya seperti apa kita tidak tahu,
Washallallahu ‘ala nabiyyina
Muhammad,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar