Hadits of The Day

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

Perjalanan Kematian


  
 Mari temen2 kita mengambil sebuah pelajaran dari kejadian yang telah menimpa kita. Agar semakin ingat bagaimana dahsyatnya kematian. Ini saya hadirkan Hadits yang sangat panjang sekali mengenai kehidupan pada saat mendekati ajal sampai ditanya oleh Malaikat tentang tiga pertanyaan, yang para ulama menyebutnya sebagai Fitnah Kubur. Dan disebutkan juga tentang Adzab dan Nikmat Kubur.

Berikut haditsnya, diriwayatkan oleh Bara' bin 'Azib :

Kami keluar bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama seorang jenazah laki-laki dari kaum Anshar, ketika sampai di pemakaman dan jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat, maka Rasulullah duduk dan kami pun ikut duduk di sekitar beliau, seolah-olah ada burung yang hinggap di atas kepala kami.

Di tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada sebatang kayu yang beliau gunakan untuk menggores-gores tanah, kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kepalanya sambil bersabda :

"Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur." mengulangnya dua atau tiga kali, kemudian berkata, ‘Sesungguhnya seorang hamba mukmin (beriman) apabila telah terputus dari kehidupan dunia dan mendekati kehidupan akhirat, turunlah kepadanya para Malaikat dari langit dengan wajah mereka yang putih seperti matahari, bersama mereka kain kafan dari kain-kain kafan di surga dan wewangian dari wewangian yang ada di surga lalu mereka duduk sejauh mata memandang, setelah itu datanglah Malaikat Maut (Malakul Maut) sampai duduk di dekat kepalanya, kemudian dia (Malaikat Maut) berkata,

‘Wahai jiwa yang thoyyib (baik), keluarlah menuju ampunan dari Allah dan ridha-Nya.’
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka ruh itu pun keluar seperti air yang mengalir dari wadahnya, lalu Malaikat maut mengambilnya, setelah itu para Malaikat yang lainnya tidak membiarkan ruh itu di tangan Malaikat maut, mereka langsung mengambilnya dan meletakkannya di kain kafan dan wewangian, kemudian keluar darinya bau seperti harumnya bau misk.

Beliau berkata, ‘Maka para Malaikat pun naik ke langit membawa ruh tersebut, dan tidaklah mereka melewati sekelompok Malaikat yang di langit kecuali mereka semua berkata, ‘Ruh siapakah yang sangat baik ini?’

Mereka menjawab, ‘Ini adalah Fulan bin Fulan.’ Mereka memanggilnya dengan nama yang terbaik yang mereka memanggilnya dengan nama tersebut di dunia, hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka meminta izin agar dibukakan pintu baginya, maka pintu langit pun dibukakan bagi mereka, dan para Malaikat di setiap langit mengantar ruh itu ke langit berikutnya, hingga sampailah ia di langit yang ketujuh.

Kemudian Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ‘Tulislah kitab amal hamba-Ku di ‘Illiyiin dan kembalikanlah ia ke bumi karena darinyalah Aku menciptakan mereka dan kepadanyalah Aku mengembalikan mereka dan darinya pula Aku akan membangkitkan mereka.’

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya, lalu datang dua Malaikat kepadanya yang kemudian mendudukkannya dan
bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabb-mu?’

Maka ia menjawab, ‘Rabb-ku adalah Allah.’

Lalu mereka bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’

Dia menjawab, ‘Agamaku Islam.’

Mereka bertanya lagi, ‘Apa tugas lelaki yang diutus kepadamu?’

Dia berkata, ‘Dia adalah Rasulullah.’

Mereka bertanya lagi, ‘Dan apakah ilmu-mu / pengetahuanmu?’

Dia berkata, ‘Aku telah membaca al-Qur-an, kemudian aku mengimaninya dan aku mempercayainya.’

Maka setelah itu terdengarlah suara panggilan dari langit ‘Hambaku telah membenarkan, karena itu bentangkanlah untuknya surga, pakaikan pakaian dari Surga, dan bukakan pintu surga.’

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, ‘Maka, terciumlah olehnya wangi Surga, Setelah itu kuburnya diperluas selebar pandangan matanya.’

Beliau berkata, ‘Setelah itu dia didatangi oleh seorang laki-laki yang tampan wajahnya, indah pakaiannya, harum baunya, orang ini berkata, ‘Berbahagialah engkau, ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu.’

Maka ia bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan?’

Orang itu menjawab, ‘Aku adalah amal kebaikanmu.’
Kemudian mayit itu berkata, ‘Ya Rabb, segerakanlah hari Kiamat agar aku bisa kembali ke keluargaku dan hartaku.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, ‘Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila telah terputus dari kehidupan dunia dan mendekati kehidupan akhirat, turunlah para Malaikat kepadanya dari langit yang wajah nya hitam, sambil membawa kain yang kasar, lalu mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut (Malakul Maut) dan ia duduk di samping kepalanya dan berkata,

‘Wahai jiwa yang khobits (jelek), keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.’ Beliau berkata, ‘Maka ruhnya berpisah dari badannya dan Malaikat maut mencabut ruhnya bagaikan mencabut besi dari kain wool yang basah, kemudian ia mengambil ruh tersebut. Ketika Malaikat maut mengambilnya, Malaikat yang telah lama duduk menunggu tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat maut, mereka langsung menaruhnya di kain kasar yang mereka bawa, lalu keluarlah dari kain tersebut bau bangkai yang sangat busuk yang pernah ada di muka bumi.

Kemudian mereka naik ke langit membawa ruh tersebut dan tidaklah mereka melewati se-kelompok Malaikat kecuali mereka semua bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat buruk ini (khobits)?’ Malaikat-Malaikat yang membawanya berkata, ‘Ini Fulan bin Fulan.’ Mereka memanggilnya dengan nama yang terjelek yang pernah ia miliki di dunia, hingga akhirnya mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka meminta izin agar dibukakaan pintu bagi ruh tersebut, tetapi pintu langit tidak dibukakan baginya.’ Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah,

"Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum’ (QS. Al-A’raaf : 40)

Kemudian Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ‘Tulislah amal perbuatannya di Sijjin yang terletak di bumi lapisan bawah.’ Maka, ruhnya pun dilempar ke bumi. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah:


"Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.’ (QS. Al-Hajj : 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, lalu ia didatangi dua Malaikat yang
kemudian mendudukkannya sambil bertanya, ‘Siapa Rabb-mu?’

Dia menjawab, ‘Ha... ha..., aku tidak tahu.’

Lalu mereka bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’

Dia menjawab, ‘Ha... ha... aku tidak tahu.’

Mereka bertanya lagi, ‘Apa tugas lelaki yang diutus kepadamu ?’

Dia menjawab, ‘Ha...ha... aku tidak tahu.’

Lalu terdengarlah suara dari langit, ‘Sungguh dia telah berdusta, maka bentangkanlah jalannya ke Neraka, bukakan pintu ke Neraka.’ Maka ia pun merasakan hawa panasnya Neraka, kemudian kuburnya dipersempit hingga tulang rusuknya bertemu, kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki yang jelek rupanya, jelek pakaiannya dan sangat busuk baunya, dan laki-laki itu berkata,

‘Celakalah engkau dengan kabar buruk yang engkau terima, ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’

Lalu mayit itu bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang meampakkan keburukan.’

Laki-laki itu menjawab, ‘Aku adalah amal perbuatanmu yang jelek.’

Kemudian mayit itu pun berkata, ‘Wahai Rabb jangan engkau tegakkan hari Kiamat.’ Dalam riwayat lain dikatakan, ‘Kemudian didatangkan kepadanya seorang laki-laki yang buta, tuli, lagi bisu, dan di tangannya ada sebuah palu godam yang jika dipukulkan ke gunung niscaya akan hancur lebur menjadi debu. Lalu ia dipukul dengan godam tersebut hingga hancur menjadi debu, kemudian Allah mengembalikan tubuhnya seperti semula, lalu ia dipukul lagi dan ia pun berteriak dengan kencang yang bisa didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia."

Hadits ini Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4753), Ahmad (IV/287-288, 295-296), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 753), Hakim (I/ 37-40). Hadits ini dishahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Lihat juga Ahkamul Jana'iz (hlm. 199-202)

Itu semua tadi baru hadits. Dan masya Allah panjangnya...
Kalau mau diperlengkap dengan penjelasan. Mungkin bisa baca2 buku Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (aku ming sekedar kopas seko kono sebagian teks). Atau mungkin Syarah Lum'atul I'tiqad, atau Syarah Tsalatsatul Ushul, atau Kitab aqidah lainnya yang terdapat masalah Fitnah Kubur dan Adzab Kubur kemungkinan ada hadits ini.



»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 05 Maret 2013

Hukum Belajar Bahasa Arab

Tanya:
Bismillah,
Kepada asatidzah yang semoga dijaga oleh Allah Subhanahu wata’ala. Mohon jawabannya: bagaimana hukum belajar bahasa arob (mis: durusul lughah, nahwu, dll) ? Dimaklumi utk mempelajarinya butuh waktu & harus intensif. Mengingat saya adalah pekerja, sehingga terkadang banyak kendala. Mohon jawaban ustadz, juga jika ada fatwa ulama tentang hal ini.
Jazakumullah wa barokallahu fiikum.
“Abu Aisyah Amin” <setiawan.amin@yahoo.com>
Jawab:

Ilmu bahasa arab mempunyai dua tujuan:

1.    Memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar.

2.    Menjaga lidah agar tidak salah dalam mengucapkan kedua wahyu tersebut.

Berhubung kedua perkara di atas adalah wajib, maka hukum mempelajari bahasa arab juga wajib, tapi wajib kifayah, bukan wajib ain.

Jadi, hukum mempelajari bahasa arab sama seperti hukum mempelajari ilmu-ilmu alat lainnya, yaitu fardhu kifayah. Karenanya jika di suatu daerah ilmu-ilmu alat seperti ini dibutuhkan maka wajib atas penduduk daerah tersebut -secara umum- untuk mempelajari ilmu tersebut. Tapi jika sudah ada sebagian dari penduduk daerah tersebut yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Sudah dimaklumi bersama bahwa hukum mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab adalah fardhu kifayah.” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/252)

Dan di tempat yang lain beliau berkata, “Ditambah lagi, bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama sehingga mengetahui bahasa Arab adalah wajib. Karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib, sementara keduanya tidak mungkin bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Dan sesuatu yang kewajiban tidak sempurna terlaksana kecuali dengannya maka sesuatu itu juga wajib.” Mirip dengannya diutarakan oleh Ar-Razi dalam Al-Mahshul (1/275).


Sumber tulisan : http://al-atsariyyah.com/hukum-belajar-bahasa-arab.html
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 10 September 2012

JANJI PERSAHABATAN YANG TERLUPAKAN






لِمَاذَا تَرَانِي بِقَفْرٍ سَحِيْقٍ ===== فَتُعْرِضُ عَنِّي وَتَنْسَى الصَّدِيْقَ


Kenapa tatkala engkau melihatku dalam padang tandus yang sangat jauh….lantas engkau berpaling dariku dan engkau melupakan sahabatmu ini

وَأَلْمَحُ فِي نَظَرَاتِكَ هَجْرًا ===== فَتَتْرُكَنِي فِي الْمَعَاصِي غَرِيْق
Aku merasakan dari pandanganmu engkau menjauhiku dan menghindar da
riku…. engkau membiarkan ku tenggelam dalam kemaksiatan

لِمَاذَا أُخَيَّ أَمُدُّ يَدَيَّ ===== فَتَتْرُكَهَا لِلَّظَى وَالْحَرِيْقِ
Mengapa wahai sahabatku? tatkala aku menjulurkan kedua tanganku (untuk kau tolong) ….lantas engkau engkau membiarkan juluran tanganku dalam api yang membakar dan menyala-nyala?

أَتَعْلَمُ أَنِّي أَزِيْدُ انْحِدَارًا ===== وَأَنْتَ تَرَانِي بِهَذَا الطَّرِيْقِ
Tidakkah engkau tahu bahwasanya aku semakin tersesat ke jalan yang menyimpang….padahal engkau melihat aku berjalan di jalan menyimpang tersebut

لِمَاذَا أُخَيَّ تُشِيْحُ بِوَجْهٍ ===== عَبُوْسٍ قَنُوْطٍ بِأَنْ لاَ أُفِيْقُ
Wahai sahabatku, kenapa engkau membuang mukamu….dengan wajah yang merengut dan masam yang putus asa seakan-akan aku tidak akan bisa sadar kembali

أَتَنْسَى زَمَانًا بَهِيًّا نَدِيًّا ===== أَمِ الشَّوْقُ وَلَّى فَهَانَ الرَّفِيْق
Apakah engkau lupa masa yang indah …. Ataukah kerinduanmu telah sirna dan rendahlah sahabatmu ini

أَتَذْكُرُ عَهْداً قَطَعْنَاهُ يَوْمًا ===== بِأَنْ نَتَآخَى كَظِلٍّ لَصِيْقٍ
Apakah engkau ingat janji yang pada suatu hari pernah kita patrikan…. bahwasanya kita akan bersaudara sebagaimana bayangan yang selalu menempel
زَهِدْتَ بِقُرْبِي وَخَلَّفْتَ قَلْبِي ===== حَزِيْنًا رَهِيْنًا لِغَمٍّ وَضِيْقٍ
Engkau semakin menjauh dariku dan engkau meninggalkan hatiku…dalam kesedihan dan kegelisahan dan kesempitan

تُسَاوِرُنِي وَسْوَسَاتُ الدَّنَايَا ===== وَيُطْرِبُنِي عَزْفُ مَكْرٍ رَقِيْبق
Bisikan-bisikan keburukan menggrogotiku…dan lantunan tipu daya yang halus telah membuai dan melenakanku…

فَخُضْتُ الذُّنُوْبَ وَكَمْ مِنْ مَلاَهٍ ===== أَتَيْتُ وَكَمْ مِنْ حَيَاءٍ أُرِيْقُ
Maka akupun tenggelam dalam dosa-dosa, betapa banyak perkara yang melalaikan aku kerjakan…dan betapa banyak rasa maluku yang aku tumpahkan (karena bermaksiat)

أُخَيَّ تَمَهَّل وَخُذْنِي إِلَيْكَ ===== فَمَا عَادَ قَلْبِي لِبُعْدٍ يُطِيْقُ
Sahabatku berhentilah sejenak dan ambil dan ajaklah diriku bersamamu…Sungguh hati ini tidak sanggup untuk menjauh…

وَمُدَّ الْأَيَادِي وَلاَ تَنْتَقِصْني ===== وَكُنْ لِجِرَاحِي الطَّبِيْبَ الشَّفِيْقَ
Dan ulurkanlah kedua tanganmu dan janganlah engkau mencelaku… dan jadilah engkau terhadap luka-lukaku seorang tabib/dokter penyayang …

إِذَا مَا مَرَرْتَ بِقُرْبِي سَرِيْعًا ===== تَذَكَّرْ قَدِيْمًا عُهُوْدَ الصَّدِيْقِ
Jika tatkala engkau lewat di dekatku lantas engkau berjalan dengan cepat (untuk menjauhiku)… maka ingatlah janji persahabatan kita dahulu…

Sungguh ada sahabat-sahabat dekat kita dahulu yang saat ini butuh untuk kita dekati. Justru tatkala ia semakin jauh dari jalan Allah bukan semakin kita jauhi…akan tetapi semakin kita dekati. Persahabatan yang dulu pernah kita jalin hendaknya tidak terlupakan dan sirna. Justru persahabatan lampau menuntut kita untuk menyayangi sahabat kita yang berada di persimpangan jalan….
Kasus yang sering terjadi juga adalah tatkala ada saudara atau sahabat kita yang futur (malas beribadah) atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan lantas sebagian kita malah menjauhinya…bahkan menjauh sejauh-jauhnya. Tidak ada yang mengunjunginya…tidak ada yang menasehatinya…akhirnya iapun semakin terpuruk dan semakin jauh dari jalan Allah. Persaudaraan terlebih lagi persahabatan mengkonsekuensikan sikap yang sebaliknya, yaitu …mendekati dan menasehati…bukan menjauhi dan mencibir…

Dari Ustadz Firanda Andirja -hafidzahullahu- yang diambil dari status Facebook
Wallahu a'lam
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 24 Februari 2012

Aku Menyesal....



Mungkin ada sebagian dari kita bahkan mungkin hampir semuanya sangat menyepelekan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah. Mereka gak begitu mempedulikan yang namanya sholat Dhuha, mereka gak begitu mempedulikan yang namanya sholat tahajud.. Padahal saudaraku, perlu kalian ketahui bahwa kalian akan sangat menyesal dengan apa yang kalian lakukan itu. Kalian akan sangat menyesal di akherat kelak karena ibadah-ibadah yang kalian tinggalkan itu. Padahal kalian sangat mungkin untuk mengerjakan amalan tersebut.

Jika kita tahu bahwa keadaan hari Kiamat itu sangatlah berat dan menakutkan begitu pula ketika kita tahu bahwa Adzab Allah itu SANGAT PEDIH, saya yakin mereka akan lebih memilih mendengarkan adzan dan berangkat ke masjid daripada bentrok, daripada nongkrong, daripada bersendagurau...

Jika kita tahu nikmat Allah itu sangatlah besar bagi penduduk surga (baca: Nikmat terbesar bagi penduduk surga adalah bisa melihat wajah Allah secara langsung) niscaya kita tidak akan segan untuk menjalankan amalan sholih sekalipun itu sunnah...

Saudaraku, Sungguh jika kalian tahu kalau saat kalian bermaksiat itu Allah cemburu, maka saya yakin kalian akan menjauhinya tanpa berani malakukannya sedikitpun...
"Cemburunya Allah Ta'ala yaitu ketika seseorang melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah" (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita tahu betapa utamanya mendatangi seruan adzan dan sholat di shof pertama (bagi laki2) maka sungguh mereka akan berebut untuk mendapatkannya…
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda :
“Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya dan subuh, maka  pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)
Lantas kenapa orang masih menyepelekan hal itu?? Jawabannya mungkin mudah, yaitu karena mereka belum mengetahui seberapa besar pahalanya. Sehingga mereka menganggap hal itu biasa. Tetapi sungguh mereka yang menyepelekan hal itu akan sangat menyesal di akherat karena mereka sama sekali tidak melakukan amalan yang baik itu padahal mereka bisa melakukannya.

KETAHUILAH SAUDARAKU... KALAU SETIAP ORANG ITU PASTI AKAN MENYESAL DI HARI AKHIR, BAGI MEREKA YANG BANYAK AMALAN SHOLIH MAKA MEREKA JUGA AKAN MENYESAL KARENA KURANG BANYAK DALAM MELAKUKANNYA...

Ada yang menyesal karena bukan dialah yang Allah panjangkan lehernya besok di hari akhir karena dia jarang mengumandangkan adzan bahkan tidak sama sekali...

Ada yang menyesal karena Allah sama sekali tidak membangunkan untuknya rumah di surga karena dia tidak menjaga sholat rawatib 12 rakaat...

Ada yang menyesal karena bukan dialah yang NAMANYA DISEBUT-SEBUT ALLAH DIHADAPAN PARA MALAIKAT UNTUK DIBANGGAKAN karena dia jarang ikut Majelis Ilmu...

Ada yang menyesal karena bukan dialah yang Allah mudahkan jalannya ke surga karena dia jarang menuntut ilmu syar'i... Sehingga mungkin ada yang sangat lama menunggu padahal mungkin ada saudaranya yang jalan menuju surga sangatlah mudah karena dia semangat menuntut ilmu (salah satunya kajian).. Padahal ketika kajian dia hanya duduk, mendengarkan tanpa banyak energi... TApi ya itu Tadi,, SETAN MUSUH KALIAN TELAH LEBIH PINTAR MENGGODA KALIAN...

Ada wanita yang menyesal karena bukan dialah yang Allah bukakan semua pintu surgaNya dan dia bebas memilih karena dia meninggalkan sholat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, dan mentaati suaminya...

Apakah kita merasa aman dengan Adzab Allah.. Padahal Ulama yang banyak ilmunya pun gak meresa aman dengan Adzab Allah... JANGAN SOK MERASA AMAN SAUDARAKU... #RENUNGAN BAGI KITA SEMUA

»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 23 Februari 2012

Antara Cinta dan Cemburu




Dua rasa yang bisa ada dalam manusia yaitu Rindu dan Cemburu terhadap sesuatu. Akan tetapi saya tidak akan membahas mengenai cemburu dan rindunya manusia sebagai makhluk, akan tetapi saya akan lebih membahas tentang cemburunya allah dan rasa rindu kita bertemu dengan Allah.
Allah befirman kaitannya dengan ghairah (cemburu) ini,
"Katakanlah, 'Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak atau pun yang tersembunyi'." (Al-A'raf: 33).
Selain dalam Al-Qur’an ada juga dalam Ash-Shahih  yang disebutkan dalam Kitab Madarijus Salikin karangan Imam Ibnu Qayyim Jawziyyah disebutkan dari Al-Ahwash, dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tidak ada seseorang yang lebih cemburu selain dari Allah. Di antara cemburu-Nya ialah Dia mengharamkan kekejian yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada seseorang yang lebih mencintai pujian selain dari Allah. Karena itulah Dia memuji Diri-Nya. Tidak ada seseorang yang lebih mencintai alasan selain dari Allah. Karena itu Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan."
Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan dari hadits Abu Salamah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah itu cemburu dan sesungguhnya orang Mukmin itu cemburu. Kecemburuan Allah ialah jika hamba melakukan apa yang diharamkan-Nya."
Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Apakah kalian heran terhadap kecemburuan Sa'd? Aku benar-benar lebih cemburu daripada dia dan Allah lebih cemburu daripada aku."
Yang termasuk dalam cemburu adalah firman Allah,
"Dan, apabila kamu membaca Al-Qur'an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup." (Al-Isra': 45).

As-Sary bertanya kepada rekan-rekannya, "Tahukah kalian apa maksud dinding di dalam ayat ini? Itu adalah dinding cemburu. Sementara tidak ada seseorang yang lebih cemburu selain dari Allah. Karena itu Allah tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai orang-orang yang layak memahami kalam-Nya, mengetahui, mengesakan dan mencintai-Nya. Allah juga menjadikan di antara mereka dengan Rasul, kalam dan pengesaan-Nya, dinding yang tidak terlihat mata. Inilah kecemburuan Allah jika semua itu diterima orang yang tidak layak menerimanya."

Cemburu merupakan tempat persinggahan yang mulia dan agung. Tetapi orang-orang sufi dekade terakhir ada yang membalik pokok permasalahannya, membuat pengertian lain yang batil, menempatkan-nya tidak secara proporsional dan menyamarkannya.

Allah befirman berkaitan dengan tempat persinggahan ini,
"Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan Allah itu pasti datang." (Al-Ankabut: 5).

Ada yang berpendapat, ini merupakan hiburan bagi orang-orang yang rindu. Dengan kata lain, Allah tahu bahwa siapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah, berarti dia rindu kepada Allah. Allah telah mempercepat waktu baginya sehingga terasa dekat, dan waktu itu pasti akan
datang. Sebab segala sesuatu yang akan datang itu dekat.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa bersabda dalam doa,
"Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang Wajah-Mu dan kerinduan berjumpa dengan-Mu."
Sebagian orang berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa rindu berjumpa dengan Allah. Kerinduan beliau tidak semata ingin berjumpa dengan Allah, tapi kerinduan ini memiliki seratus bagian. Sembilan puluh sembilan bagi beliau dan satu bagian dibagi-bagi kepada umat. Beliau ingin agar satu bagian ini ditambahkan kepada bagian kerinduan yang dikhususkan bagi beliau. Allahlah yang lebih tahu."
Rindu merupakan salah satu pengaruh dan hukum cinta. Rindu merupakan perjalanan hati menuju kekasih dalam keadaan bagaimanapun. Ada yang berpendapat, rindu adalah gejolak hati untuk bertemu kekasih. Ada yang berpendapat, rindu dapat membakar hati dan menghentikan
detak jantung. Cinta lebih tinggi daripada rindu, sebab rindu muncul dari cinta.
Kuat dan lemahnya rindu ini tergantung kepada cinta. Yahya bin Mu'adz berkata, "Tanda rindu ialah tersapihnya anggota tubuh dari syahwat."
Abu Utsman berkata, "Tanda rindu ialah menyukai mati asalkan mendatangkan ketenangan jiwa, seperti keadaan Yusuf Alaihis-Salam ketika dimasukkan ke dalam sumur. Dalam keadaan seperti ini beliau tidak berkata, "Matikanlah aku!" Begitu pula saat beliau dijebloskan ke dalam penjara. Tetapi ketika semua urusan sudah beres, keamanan sudah terjamin dan nikmat ada di mana-mana, maka beliau berkata, "Matikanlah aku dalam keadaan berserah diri."
Ibnu Khafif berkata, "Rindu adalah ketenangan hati karena cinta dan keinginan untuk berjumpa serta berdekatan." Saya katakan, bahwa di sini ada masalah yang diperselisihkan di antara orang-orang yang mencintai, apakah kerinduan itu bisa lenyap setelah ada pertemuan ataukah tidak? Tapi mereka tidak berbeda pendapat bahwa cinta tidak hilang karena ada pertemuan.
Di antara mereka ada yang berpendapat, rindu tidak hilang meskipun sudah ada pertemuan. Sebab rindu merupakan perjalanan hati kepada kekasihnya. Jika sudah sampai di hadapannya, maka rindu ini berganti menjadi kesenangan. Kesenangan ini menyatu dengan cinta dan tidak mengenyahkannya.
Ada yang berpendapat, rindu semakin bertambah karena kedekatan dan pertemuan. Rindu tidak hilang karena pertemuan. Karena sebelum menerima kabar dan mengetahui, begitu pula sesudahnya, sudah ada kesaksian.
Al-Junaid berkata, "Aku pernah mendengar As-Sary berkata, "Rindu merupakan kedudukan yang mulia bagi orang yang memiliki ma'rifat. Jika dia dapat mewujudkan kerinduan itu, maka perhatiannya hanya tertuju kepada siapa yang dia rindukan. Karena itu para penghuni surga senantiasa merindukan Allah, sekalipun mereka dekat dan dapat melihat-Nya."

Disarikan dari Kitab Madarijus Salikin karya Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah
»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 19 Februari 2012

About Love : (Sekedar Share)



1. tau nggak, memang dimana-mana cowok demennya curhat ama cewek, dansebaliknya cewek demen curhat sama cowok :)

2. alasannya sih katanya lebih seru (emangnya tinju) dan lebih terpercaya, alibi aja itu mah, bilang aja demen -_-

3. padahal curhat2an cowok-cewek itu bahaya, karna awal2nya sih bilang temen, lama-lama jadi demen

4. alasannya sih "nganggep adik angkat", awalnya memang adik angkat, lama-lama temen dekat, trus melekat deh.. hehe.. ngaku ayo..

5. walaupun kamu gak bilang kamu pacaran, kalo aktivitasmu begitu, ya sama-sama aja maksiatmu, eta-eta keneh (ceuk sunda mah)

6. atau sekedar sms say hello, "udah maem blum", "udah mandi blum" >> halah, emaknya aja gak segitunya..

7. tau gak, nafsu itu kayak magnet, berlaku hukum tarik menarik F = G x (Ma x Mb)/r2, gak ngerti ya, ckckck.. sini, mari sy jelasin :D

8. F = nafsu total, G = udah baligh, Ma = syahwat laki2, Mb = syahwat wanita, r = radius (jarak), andersten?

9. jadi semakin deket cowok sama cewek, semakin bahayalah mereka, semakin mungkin baku syahwat diantara mereka, ancur nih..

10. maka semakin kenceng akslerasi syahwat, maka semakin bahaya hasil akhirnya, apalagi syahwat kamu akslerasinya 100 km dlm 3 detik (wow!)

11. Allah yg ciptain kita tau bahwa kita punya syahwat, Dia yang ngasi, makanya sebelum nikah Dia perintah utk jgn deket2 lawan jenis

12. Rasul pun tau kita punya syahwat, maka sebelum akad jangan dekat, apalagi beduaan karena yg ketiganya pasti adalah setan -_-

13. sekedar boncengan, pulang duaan, kerja kelompok bedua (kelompok apaan nih, ganda campuran?), semua tak diperkenankan, demi kita juga kok

14. walau kamu bilang kamu cuma teman, siapa yg jamin bukan TTM, teman tapi maling, eh salah, teman tapi mesra? gak ada yg jamin toh?

15. apalagi Rasul bilang "nahnu nahkum bi dzhahir" (kami menghukumi yang tampak), bukan yg tersembunyi dalam hati, ya kan :)

16. makanya dalam Islam, ikhwan dan akhwat aktivitasnya dipisah, bukan apa-apa, preventif lebih utama dari kuratif, cegah lebih baik dr beli obat

17. dengan gitu niat terjaga dan amal pun terpelihara, apalagi kemuliaan dan kehormatan juga ikut terjaga, adem kan..

18. apalagi jaman sekarang, dunia maya begitu serem, mantengin foto ikhwan / akhwat bukan perkara sulit kyk jaman dulu..

19. jaman sy mah, minta poto cewek setengah mati, jaman sekarang foto cewek berbagai gaya ada, yg mati setengah juga ada.. hehe..

20. chatting mudah, kontak mudah, tanpa sadar muda-mudi kita udah mulai terpapar bahaya dunia maya, gak terkecuali pengemban dakwah (nah loo)

21. "nggak kok mas, ini cuma koordinasi dakwah" >> koordinasi atau koor di nasi~ kok pake pesan "ukhti, afwan, inget tahajudnya ya.." geli gw..

22. "oo.. bukan mbak, ini cuma nanya hukum ke si akhii" >> pertanyaan atau perhatian~ kok nemen banget, knp gak tanya ustadzahnya aja.. hayoo..

23. awalnya pinjem2an buku kuliah, trus pinjem2an kitab ngaji, trus pinjem2an duit (ngutang?) trus lama-lama pinjem2an hati. heh heh heh..

24. tulisannya "I love you, coz Allah" tapi dipakein koma, lagian yang begini2 gak perlu diungkapin ke orangnya lagi, doain aja.. -_-

25. komennya "Keep istiqamah ya ukhti yang disayangi Allah.." >> ampun dah, dakwah dusta bener..

26. jaga niat guys, batesin interaksi sama lawan jenis, kalo Allah udah kasih jalan yang luas, ngapain lagi jalan di pinggir2 jurang

27. jalan masih panjang, dan masih luas, jalanlah ditengah2, kita gak pernah tau kapan badai berhembus bisa meniupkan fitnah pada kita

28. siapa pria yang hatinya belum terjaga hendaklah menikah, siapa yang belum menikah, hendaklah menjaga hatinya dari fitnah wanita

29. curhat boleh, kita tau kok kamu perlu nge-refresh pikiran, sama emak bapak kan bisa, atau sama temen2 satu perjuangan yg sesama jenis? :)

30. interaksi boleh, tapi bagi masih liar hatinya, banyak2lah meluruskan niat :)

31. yang udah terlanjur ada hubungan tanpa ikatan, walau tak dinamakan pacaran, udaaah, putusin aja, selesaikan!

sumber: Ummu AbBas Salafyy Nia
(sekedar share)

»»  Baca Selengkapnya...