Hadits of The Day

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Mereka yang Tersungkur Karena Al-Qur'an

Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat lululh terhadap Al-Quran. Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsang, bahkan hingga mati, karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat, tapi betul-betul buah dari ketakwaannya.

Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
“Akan masuk surga sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382 & Muslim 2840)
Mereka orang yang hatinya sangat lunak, dipenuhi dengan ketakutan kepada Sang Pencipta. Sebagaimana burung. Binatang yang sangat peka dan mudah kaget.
Diantara hamba Allah yang bisa mencapai derajat semacam ini adalah Ali bin Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Beliau digelari qatilul qur’an (orang yang ‘dibunuh’ Al-Quran). Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (6/460) mengatakan:

وسمي علي بن الفضيل قتيل القرآن
“Ali bin Fudhail digelari qatilul quran”

Beliau bukan ahlul bait. Bukan pula keturunan kerajaan. Beliau putra seorang ulama yang dikenal sangat zuhud, Fudhail bin Iyadh rahimahullah.
Diceritakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/302), dari Muhammad bin Bisyr Al-Makki, beliau bercerita:
Pada suatu hari kami bernah berjalan bersama Ali bin Fudhail. Kemudian kami melewati daerah Bani Al-Harits Al-Makhzumi, yang pada saat itu ada seorang guru  yang sedang mengajar anak-anak. Kemudian sang guru membaca firman Allah:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)
Tiba-tiba Ali bin Fudhail langsung teriak dan jatuh pingsan. Datanglah ayahnya dan mengatakan: “Sungguh, dia terbunuh karena Al-Quran.”
Kemudian dia dibawa pulang. Salah seorang yang membawanya pulang bercerita bahwa Fudhail, ayahnya mengabarkan, Ali tidak bisa shalat pada hari itu, shalat dzuhur, asar, maghrib, dan isya. Pada tengah malam dia baru sadar.
Di lain kasus, Ibnu Qudamah menceritakan kisah seorang pemuda dalam kitabnya At-Tawwabin. Seorang pemuda dari Al-Azd. Beliau menghadiri majlis ilmu. Ketika beliau mendengan ada orang yang membaca firman Allah:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Ghafir: 18)
Tiba-tiba, beliau jatuh tersungkur, pingsan. Akhirnya dia diangkat di tengah keramaian banyak orang dalam kondisi pingsan.
Ya rabbi, jadikanlah kami hamba-Mu yang lunak hatinya, dan mencintai mereka yang lunak hatinya.

»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 16 Maret 2012

Kisah Cinta Ayah Ibnul Mubarak



Inilah kisah indah percintaan seorang tabi’in mulia. Namanya Mubarak.
Dulu, Mubarak itu seorang hamba. Tuannya memerdekakannya kerana keluhuran pekerti dan kejujurannya. Setelah merdeka ia bekerja pada seorang kaya raya yang memiliki kebun delima yang cukup luas. Ia bekerja sebagai penjaga kebun itu. Keramahan dan kehalusan tutur sapanya, membuatnya disenangi semua temannya dan penduduk di sekitar kebun.

Suatu hari pemilik kebun itu memanggilnya dan berkata: “Mubarak, tolong petikkan buah delima yang manis dan masak!”
Mubarak seketika itu bergegas ke kebun. Ia memetikkan beberapa buah dan membawanya pada Tuannya. Ia menyerahkan pada Tuannya. Majikannya mencuba delima itu dengan penuh semangat. Namun apa yang terjadi, ternyata delima yang dipetik Mubarak rasanya masam dan belum masak. Ia mencuba satu persatu dan semuanya tidak ada yang manis dan masak..

Pemilik kebun itu gusar dan berkata: ”Apakah kau tidak dapat membedakan mana yang masak dan yang belum masak? Mana yang manis dan mana yang masam?”


“Maafkan saya Tuan, saya sama sekali belum pernah merasakan delima. Bagaimana saya boleh merasakan yang manis dan yang kecut,” jawab Mubarak.


“Apa? Kamu sudah sekian tahun bekerja di weesini dan menjaga kebun delima yang luas yang telah berpuluh kali berbuah dan kau katakan belum merasakan delima. Kau berani berkata seperti itu!” Pemilik kebun itu marah merasa dipermainkan.

“Demi Allah Tuan, saya tidak pernah memetik satu butir buah delima pun. Bukankah anda hanya memerintahkan saya menjaganya dan tidak memberi izin pada saya untuk memakannya?” lirih Mubarak.


Mendengar ucapan itu pemilik kebun itu tersentak. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Ia lalu pergi bertanya kepada teman-teman Mubarak dan tetangga disekitarnya tentang kebenaran ucapan Mubarak. Teman-temannya mengakui tidak pernah melihat Mubarak makan buah delima. Juga tetangganya.

Seorang temannya bersaksi: “Ia seorang yang jujur, selama ini tidak pernah berbohong. Jika ia tidak pernah makan satu buah pun sejak bekerja disini bererti itu benar.”


***

Kejadian itu benar-benar menyentuh hati sang pemilik kebun. Diam-diam ia kagum dengan kejujuran pekerjanya itu.

Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memanggil Mubarak:


“Mubarak, sekali lagi, apakah benar kau tidak makan satu buah pun selama menjaga kebun ini?”


“Benar Tuan.”


“Berilah aku alasan yang boleh aku terima!”


“Aku tidak tahu apakah Tuan akan menerima penjelasanku apa tidak. Saat aku pertama kali datang untuk bekerja menjaga kebun ini, Tuan mengatakan tugas saya hanya menjaga. Itu aqadnya. Tuan tidak mengatakan aku boleh merasakan delima yang aku jaga. Selama ini aku menjaga agar perutku tidak dimasuki makanan yang syubhat apalagi haram. Bagiku kerana tidak ada izin yang jelas dari Tuan, maka aku tidak boleh memakannya.”


“Meskipun itu delima yang jatuh di tanah, Mubarak?”


“Ya, meskipun delima yang jatuh ditanah. Sebab itu bukan milikku, tidak halal bagiku. Kecuali jika pemiliknya mengizinkan aku boleh memakannya.”


Kedua mata pemilik kebun itu berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan dan berkata, “Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu aku mengahwinkannya dengan siapa?”


Mubarak menjawab:

“Orang-orang Yahudi mengahwinkan anaknya dengan seseorang kerana harta. Orang Nasrani mengahwinkan kerana keindahan. Dan orang Arab mengahwinkan kerana nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim mengahwinkan anaknya pada seseorang kerana melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mahu masuk golongan yang mana? Dan kahwinkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.”


Pemilik kebun berkata: ”Aku rasa tak ada orang yang lebih bertakwa darimu.”

Akhirnya pemilik kebun itu mengahwinkan puterinya dengan Mubarak. Puteri pemilik kebun itu ternyata gadis cantik yang solehah dan cerdas. Ia hafal kitab Allah dan mengerti sunnah NabiNya. Dengan kejujuran dan ketaqwaan, Mubarak memperoleh nikmat yang agung dari Allah SWT. Ia hidup dalam syurga cinta. Dari percintaan pasangan mulia itu lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama“Abdullah”. Setelah dewasa anak ini dikenal dengan sebutan “Imam Abdullah bin Mubarak” atau “Ibnu Mubarak”, seorang ulama di kalangan tabi’in yang sangat terkenal. Jika kita sering membaca kitab fikih maka akan banyak kita temui nama Ibnul Mubarak ini. Ibnul Mubarak selain dikenali sebagai ahli hadis, Imam Abdullah bin Mubarak juga dikenali sebagai ahli zuhud. Kedalaman ilmu dan ketaqwaannya banyak diakui ulama pada zamannya.

http://referensiislam.blogspot.com/2011/06/kisah-cinta-ayah-ibnu-mubarak.html
»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 26 Februari 2012

Kisah Cinta Zainab Putri Nabi dan Kalung Yang Mengingatkan Nabi

 

Kisah ini erat kaitannya dengan Abul ‘Ash bin Rabi’
Ibnu Ishaaq rahimahullah berkata dalam sirohnya :

"Abul 'Aash bin Ar-Robii' adalah salah seorang dari penduduk kota Mekah yang dikenal dengan perdagangannya, hartanya yang banyak, serta terkenal dengan sifat amanah. Abul 'Aash adalah keponakan Khadijah (karena Ibu Abul 'Aash adalah Haalah binti Khuwailid, saudari perempuan Khodijah Binti Khuwailid radhiallahu 'anhaa).

Khoodijahlah yang telah meminta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menikahkan Abul 'Aaash dengan Zainab putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan Nabi tidak menyelisihi permintaan Khodiijah, maka Nabipun menikahkan putrinya Zainab dengan Abul 'Aaash. Dan pernikahan ini terjadi sebelum turun wahyu (sebelum Nabi diangkat menjadi seorang Nabi). Bahkan Nabi menganggap Abul 'Aash seperti anak sendiri.

Tatkala Allah memuliakan Nabi dengan wahyu kenabian maka berimanlah Khodijah serta seluruh putri-putrinya termasuk Zainab, akan tetapi Abul 'Aash (suami Zainab) tetap dalam keadaan musyrik.

Nabi juga telah menikahkan salah seorang putrinya (Ruqooyah atau Ummu Kaltsuum) dengan putra Abu Lahab yaitu 'Utbah bin Abi Lahab.

Tatkala  Nabi mendakwahkan perintah Allah dan menunjukkan permusuhan kepada kaum musyrikin maka mereka berkata, "Kalian telah menyantaikan Muhammad dari kesulitannya, kembalikanlah putri-putrinya agar ia tersibukkan dengan putri-putrinya !!".

Merekapun mendatangi 'Utbah putra Abu Lahab lalu berkata, "Ceraikanlah putri Muhammad, maka niscaya kami akan menikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang kau kehendaki !!". 'Utbah berkata, "Aku akan menceraikannya dengan syarat kalian menikahkan aku dengan putrinya Sa'iid bin Al-'Aash". Maka merekapun menikahkan 'Utbah dengan putri Sa'iid bin Al-'Aaash dan Utbahpun menceraikah putri Nabi sebelum berhubungan tubuh dengannya. Dengan perceraian tersebut Allah telah memuliakan putri Nabi dan sebagai kehinaan bagi 'Utbah. Setelah putri Nabi diceraikan oleh 'Utbah maka dinikahi oleh 'Utsmaan bin 'Afaan radhiallahu 'anhu.

Para pembesar-pembesar kafir Quraisypun mendatangi Abul 'Aash lalu mereka berkata, "Ceraikanlah istrimu itu, kami akan menikahkan engkau dengan wanita mana saja yang engkau sukai dari Quraish !!". Abul 'Aash berkata, "Demi Allah aku tidak akan menceraikan istriku, dan aku tidak suka istriku diganti dengan wanita Qurasih mana saja" (Perkataan Ibnu Ishaaq ini dinukil oleh Ibnu Hisyaam dalam sirohnya 1/651-652 dan Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/379)

Khadijah radhiallahu 'anhaa memiliki sebuah kalung yang dipakainya. Tatkala Zainab putrinya menikah dengan keponakan Khadijah Abul 'Aash maka Khadijah menghadiahkan kalung tersebut kepada Zainab untuk dikenakan oleh Zainab tatkala malam pengantin dengan Abul 'Aaash.

Setelah Nabi diberi wahyu kenabian maka seluruh putri-putri Nabi masuk Islam. Adapun Abul 'Aash suami Zainab tetap dalam kemusyrikannya.

Ibnu Ishaaq rahimahullah berkata, "Rasulullah tatkala di Mekah tidak bisa menghalalkan dan mengharamkan, beliau tidak berkuasa. Islam telah memisahkan antara Zainab dengan Abul 'Aash bin Ar-Robii', hanya saja Rasulullah tidak mampu untuk memisahkan mereka berdua. Maka Zainabpun tinggal bersama Abul 'Aash yang dalam keadaan musyrik hingga Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Tatkala terjadi perang Badar dan diantara pasukan Quraisy adalah Abul 'Aash bin Ar-Robii' yang akhirnya menjadi tawanan perang Badar, lalu dibawalah ia di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah" (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyaam dalam sirohnya 1/252 dan Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/379-380)

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kesempatan kepada penduduk Mekah yang mau membebaskan para tawanan perang Badar untuk membayar tebusan. Diantara mereka ada yang dibayar hingga 4000 dirham (sekitar 400 dinar, dan satu dinar kurang lebih 4 1/4 gram emas) seperti Abu Wadaa'ah, ada yang ditebus dengan 100 uqiyah (sekitar 3 kg emas, karena 1 uuqiyah sekitar 30 gram emas) seperti Al-Abbas bin Abdil Muttholib, dan ada yang hanya 40 uuqiyah seperti Al-'Aqiil bin Abi Tholib. (Lihat As-Siiroh An-Nabawiyah fi Dhoi Al-Mashoodir Al-Ashliyah hal 359)

Kalung Yang Mengingatkan Nabi Kepada Cinta Pertamanya…

Tatkala Zainab yang berada di Mekah mendengar bahwa suaminya Abul 'Aaash menjadi tawanan perang di Madinah maka iapun hendak menebus suaminya. Akan tetapi Zainab tidaklah memiliki apa-apa untuk menebus sang suami yang ia cintainya, kecuali hanya sedikit harta dan kalung pemberian ibunya Khadijah sebagai hadiah pernikahannya dengan suaminya.  

Aisyah radhiallahu 'anhaa berkata :
"Tatkala penduduk Mekah mengirim harta untuk menebus para tawanan mereka, maka Zainabpun mengirim sejumlah harta untuk menebus suaminya Abul 'Aash, dan Zainab mengirim bersama harta tersebut sebuah kalung yang dahulunya milik Khadijah, lalu Khadijah memberikan kalung tersebut kepada Zainab tatkala Zainab menikah dengan Abul 'Aash.
Maka tatkala kalung tersebut dilihat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka Rasulullahpun sangat sedih kepada Zainab. Beliaupun berkata (kepada para sahabatnya), "Jika menurut kalian bisa untuk membebaskan tawanan Zainab dan kalian kembalikan lagi kalungnya  ??". Maka para sahabat berkata, "Iya Rasulullah". Akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam mengambil janji dari Abul 'Aaash agar membiarkan Zainab ke Madinah. Lalu Rasulullah mengirim Zaid bin Haaritsah dan seseorang dari Anshoor (untuk menjemput Zainab), dan beliau berkata kepada mereka berdua, "Hendaknya kalian berdua menunggu di lembah Ya'jij hingga Zainab melewati kalian berdua, lalu kalian berdua menemaninya hingga kalian membawanya di Madinah" (HR Abu Dawud no 2694 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kalung tersebut maka Nabipun sangat sedih karena mengingat kondisi putrinya Zainab yang bersendirian di Mekah, dan juga sangat sedih karena mengingat kembali cinta pertamanya Khadijah radhiallahu 'anhaa dan bagaimana kesetiaan istrinya Khadijah, karena kalung tersebut dahulunya adalah milik Khadijah dan dipakai oleh Khadijah di lehernya radhiallahu 'anhaa' (Lihat 'Auunul Ma'buud 7/254). Kalung tersebut mengingatkan beliau kepada Khadijah yang sangat dicintainya yang merupakan ibu dari anak-anaknya. (Lihat Al-Fath Ar-Robbaaniy 14/100-101). Hal inilah yang menjadikan Nabi membebaskan Abul 'Aash suami putrinya Zainab dan sekaligus keponakan Istrinya Khodijah tanpa tebusan sama sekali.

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja yang diambil dari http://www.firanda.com


»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 01 Juli 2011

Empat Wanita Teladan



Ada empat wanita yang di ceritakan dalam sejarah Islam. Mereka banyak diceritakan dalam banyak dalil baik itu Al-Qur’an maupun hadits. Empat wanita ini adalah empat wanita tauladan bagi para wanita muslim,..  
“Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia. Mereka adalah Asiah binti Muzahim, isteri Firaun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Saw, dan Fatimah binti Muhammad” (HR. Bukhari)
Keempat  wanita itu adalah Asiah binti Muzahim (isteri Fir'aun), Maryam (ibunya Nabi Isa), Khadijah (isteri Nabi Muhammad), dan Fatimah binti Rasulullah.
Empat wanita ini adalah contoh-contoh wanita yang memperoleh kemuliaan walau dengan keadaan yang berbeda-beda. Jika kita lihat keempat wanita ini, dapat kita ketahui bahwa untuk mencapai tingkat yang mulia itu bisa dalam keadaan apapun.

A. Asiah
Asiah ini adalah salah satu wanita yang disebutkan dalam hadist diatas sebagai wanita teladan. Salah satu wanita yang mendapatkan kemuliaan dari Allah walaupun isteri Asiah ini adalah seorang yang kafir, orang yang paling bengis, orang yang banyak menimbulkan kerusakan di dunia yaitu Fir'aun bahkan dia sombong karena mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dalam keadaan seperti ini Asiah tetap istiqomah untuk tetap mengabdi kepada Allah menjadi hamba Allah.
Hingga suatu saat Aisah pernah meminta kepada Allah
Asiah pernah meminta kepada Allah: “Ya Allah di dunia aku tidak merasakan rumah tangga yang damai, di dunia aku tidak mendapatkan kasih sayang seorang suami yang baik, di dunia aku tidak merasakan keutuhan berumah tangga. Maka bangunkanlah untukku Ya Allah di surga nanti sebuah rumah didekat Engkau di sisi-Mu.
Ternyata dibalik seorang yang sangat bengis, sangat sombong, dan sangat durjana ini hingga al-Qur’an-pun menyebut orang ini, ternyata dibaliknya ada isteri yang sangat mulia yaitu Asiah. Semoga Allah benar-benar membangunkan untuknya sebuah istana megah di surga dekat dengan Allah di sisi Allah.. amin..
Cerita satu wanita ini menginspirasikan kita bahwa kemuliaan bisa didapat oleh orang yang suaminya seorang yang tidak sholeh bahkan kafir.
B. Maryam
Kemudian wanita kedua yang menjadi tauladan bagi kaum hawa adalah Maryam. Maryam disini mendapatkan kemuliaan yang berbeda dengan wanita-wanita yang lain. Maryam mendapatkan kemuliaan dari Allah dengan melahirkan seorang Isa tanpa seorang ayah yang menghamilinya.
Ketika itu Maryam banyak diejek oleh orang-orang, ketika melahirkan Isa tanpa seorang ayah. Dari kejadian ini dapat kita simpulkan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu dan hal yang demikian ini adalah sangat mudah bagi Allah. 
Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata:
Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid. (Shahih Muslim No.4458).
Allah telah memuliakan Maryam walau harus melahirkan seorang Isa tanpa seorang ayah. Dari sini kita mendapat pelajaran yang sangat berharga bahwa kekuasaan Allah itu benar-benar nyata bagi orang-orang yang beriman.
C. Siti Khodijah
Wanita yang ketiga yang yang menjadi tauladan bagi para wanita adalah isteri Rasulullah yaitu Siti Khodijah. Tentu saja semua isteri Rasulullah adalah wanita yang baik karena Rasulullah adalah orang yang sangat mulia dan baik akhlaknya, maka yang menjadi isteri juga orang yang baik pula.

24:26
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (Q.S. An-Nur:26)
Siti Khodijah adalah orang yang pertama yang menerima dakwah setelah Rasulullah menerima wahyu yang pertama yaitu Q.S. Al-Alaq ayat 1-5. Setelah Rasulullah kaget dan ketakutan dengan kejadian yang sangat mengherankan ini yaitu di Gua Hiro, Rasulullah lalu pulang dan menyuruh Siti Khodijah untuk menyelimutinya. Sungguh wanita yang satu ini adalah wanita yang sangat mulia.
Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata:
Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid. (Shahih Muslim No.4458).
Siti Khodijah adalah wanita yang senantiasa mendukung dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Wanita yang menjadi ummul mukminin atau orang yang pertama yang masuk islam. Pasangan Rasulullah dengan Siti Khodijah ini adalah salah satu contoh rumah tangga yang mulia yang dapat kita contoh.
D. Fatimah Binti Rasulillah
Wanita yang keempat yang menjadi tauladan bagi kita adalah Fatimah Binti Rasulillah. Fatimah adalah seorang wanita yang sangat mulia akhlaknya dan sangat cantik parasnya sehingga beruntunglah seorang ali bin abi Thalib menjadi pasangan hidupnya. Fatimah adalah seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah, begitu pula Fatimah yang sangat menyayangi Rasulullah.
Ketika Ibunya Siti Khodijah telah wafat, maka Rasulullah-lah satu-satunya orang tua yang Fatimah sayangi. Hal ini dibuktikan dengan pertolongan seorang Fatimah ketika Rasulullah terluka dalam Perang Uhud.
Hadis riwayat Sahal bin Sa`ad ra.:
Bahwa dia ditanya tentang luka Rasulullah saw. dalam perang Uhud, Sahal menjawab: Wajah Rasulullah saw. terluka, gigi seri beliau patah serta topi perang beliau juga hancur. Fatimah putri Rasulullah saw. lalu membersihkan darah beliau sementara Ali bin Abu Thalib menuangkan air ke atas luka dengan menggunakan perisai. Ketika Fatimah melihat ternyata air hanya menambah pendarahan, ia lalu mengambil sepotong tikar dan membakarnya hingga menjadi abu. Kemudian Fatimah menempelkan abu tersebut pada luka beliau hingga berhentilah aliran darah itu. (Shahih Muslim No.3345)

Jika kita lihat hadits tersebut betapa kasihannya seorang Fatimah ketika melihat ayahnya luka berdarah-darah. Tetapi karena kelembutan hatinya Fatimah mengobati luka Rasulullah dank arena ada cinta dihati darahpun berhenti. Egitu mulianya akhlak seorang Fatimah hingga Abu Bakar, Umar melamarnya. Akan tetapi Rasulullah tidak menerima lamarannya hingga Ali melamar Fatimah kemudian Rasulullah menerima lamaran Ali dengan mengucapkan Ahlan Wa Sahlan.
Akan tetapi penderitaan seorang Fatimah tidak selesai sampai disini, ketika Fatmah telah berkeluargapun, Fatimah masih hidup menderitakarena harus bekerja keras mengiling gandum hingga tangannya melepuh. Hingga suatu saat Fatimah meminta seorang budak kepada Rasulullah untuk membantu keluarganya, tetapi Jawab Rasulullah, “Aku beri tahu hal yang lebih baik kepadamu yaitu membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu akbar 33 kali”.
Begitu mulianya akhlak seorang Fatimah, walau penderitaan menimpa hidupnya, tetapi kemuliaan akhlaknya begitu dahsyat..


Akan tetapi selain keempat wanita yang ada dalam hadist diatas, kita juga tak mengelak jika ada satu wanita lagi yang juga menjadi tauladan bagi kita semua yaitu Hajar (isteri Nabi Ibrahim).
E. Hajar
Hajar isteri Nabi Ibrahim ini adalah salah satu wanita yang dimuliakan oleh Allah dalam membangun keluarga yang mulia dengan Nabi Ibrahim. Walaupun Hajar bukan hanya satu-satunya isteri Nabi Ibrahim, tetapi Hajar sama sekali tidak mempermasalahkan tentang dirinya yang “diduakan” oleh Nabi Ibrahim. Hingga pada suatu hari Hajar telah melahirkan buah hati yang pertama itu yaitu Ismail yang nantinya Ismail ini juga akan meneruskan dakwah Tauhidullah, karena Ismail juga termasuk salah satu Rasul utusan Allah. Akan tetapi setelah Hajar melahirkan Ismail, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan Hajar di Mekkah padahal ketika itu Ismail masih sangat kecil dan masih belum tahu apa-apa. Ketika itu Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk bersama isteri yang satunya lagi yang berada di Palestina. Dengan rasa bingung Nabi Ibrahim menyampaikan masalah ini kepada Hajar. Akan tetapi sifat istiqomah dan sifat yang baik yang berada dalam diri seorang Hajar ini membuat Hajar memiliki satu pendirian yang kuat yaitu Allah akan selalu menolong hambanya. Ketika itu Hajar bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Apakah ini adalah perintah dari Allah?” Tanya Hajar. “Iya” jawab Nabi Ibrahim.  Kemudian dengan bijaknya Hajar mengatakan kurang lebih seperti ini, “Jika ini memang perintah dari Allah, maka patuhilah perintah tersebut  walau itu berat. Sesungguhnya aku dan Ismail akan mendapat pertolongan dari Allah.” Jawa Hajar dengan penuh keistiqomahan.
Subhanallah.. jawaban yang sangat menggetarkan hati kita, mungkin hal ini akan sangat berbeda jika kita temui pada banyak pasangan keluarga di zaman sekarang ini. Mungkin banyak isteri akan merasakan cemburu yang sangat berat apabila suaminya malah memilih untuk bersama isteri yang satunya lagi. Tetapi subhanallah hal ini tidak terjadi pada Hajar ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekkah.
Akan tetapi setelah Hajar dan Ismail ditinggal oleh Nabi Ibrahim, Ismail yang masih mungil itu menangis karena kehausan dan ingin minum. Melihat kondisi itu Hajar kemudian mencarikan minum untuk buah hatinya itu, Hajar berlari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwa dan kembali lagi tetapi sama sekali tidak ada minuman. Hajar tidak lelah, kemudian ia kembali berlari lagi dari bukit Safa ke bukit Marwa dan hal ini diulang 7 kali. Dari sinilah kemudian semua orang yang pergi haji melestarikan apa yang dilakukan oleh Hajar yaitu berlari dari Bukit safa ke Bukit Marwa sebanyak 7 kali. 
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu    (Q.S. Al-Mulk   : 1)
Setelah berlari-lari dan tidak menemukan minuman, ternyata perkataan Hajar yang mengatakan bahwa Allah akan menolongnya benar-benar terjadi. Dari hentakan kaki Ismail yang sedang menangis itu memancarkan air .. Subhanallah.. pertolongan Allah sungguh memang ada.. mata air inilah yang sampai saat ini kita kenal dengan sumur zam-zam..

Semoga kita dapat meniru semua kemuliaan yang telah di contohkan oleh pendahulu kita. Amiiiinn yaa rabbal ‘alaamiin.
Wallahu Ta'ala a'lam
»»  Baca Selengkapnya...