Hadits of The Day

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ

Kamis, 24 November 2011

Adakah Pacaran Yang Islami??



Mungkin ada diantara kita yang mengatakan, yang gak boleh itu kan zina.. Lantas gimana kalau dalam pacaran itu sama sekali tidak ada syahwat??
Hati-hatilah dengan pikiran-pikiran yang seperti ini yang bisa saja meracuni diri kalian. Mana ada pacaran yang islami. Kalau gitu berarti ada judi islami, ada zina islami, ada nyuri islami dsb.
Mereka mengatakan berdua-duaan itu boleh asalkan ada yang mengawasi, mereka berpendapat memegang tangan lawan jenis bukan mahrom dengan tidak nafsu itu masih boleh. Saudaraku, hadistnya itu jelas, Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan). Kalau seandainya memegang tangan lawan jenis yang bukan mahrom itu diperbolehkan berarti secara tidak langsung ketika saya diperbolehkan memegang tangan seorang akhwat yang tidak ada nafsu, maka secara tidak langsung saya mengejek akhwat tersebut kalau kamu jelek karena saya sama sekali tidak nafsu denganmu. Ketika kondisi ini terjadi berarti Islam mengatur sebuah ketidakadilan. Islam memberikan sebuah peraturan yang bisa melukai hati seseorang.. SAYANGNYA TIDAK!!! ISLAM ADALAH AGAMA YANG ADIL, ISLAM ADALAH AGAMA YANG INDAH!!!
Mungkin untuk memperjelas pembahasan kita, saya akan menghadirkan pendapat ulama yang sangat terkenal, baik terkenal dalam hal fikih, maupun dalam hal hati, yaitu Syaikhul Islam Ibnu al-Qayyim
Dalam bukunya yang berjudul Jangan Dekati Zina, ada satu bab yang sangat menarik sekali yaitu EMPAT PINTU MASUKNYA MAKSIAT PADA MANUSIA (hal 11)
Empat hal tersebut yaitu:                         .
A.Al Lahazhat ( Pandangan pertama).
Yang satu ini bisa dikatakan sebagai ‘provokator’syahwat, atau ‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. Maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:  “Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.” ( HR. At Turmudzi, hadits hasan ghorib ).
Dan di dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam , beliau bersabda : “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ihlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat.” ( HR. Ahmad )..
Beliau juga bersabda : “Palingkanlah pandangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.” (HR. At Thobrani dalam Al mu’jam al kabir ).
Dalam hadits lain beliau bersabda : “Janganlah kalian duduk duduk di ( tepi ) jalan”, mereka berkata : “ya Rasulallah, tempat tempat duduk kami pasti di tepi jalan”, beliau bersabda :“Jika kalian memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu”, mereka bertanya : “Apa hak jalan itu ?”, beliau menjawab : “Memalingkan pandangan ( dari hal hal yang dilarang Allah, pent.), menyingkirkan gangguan, dan menjawab salam.” ( HR. Muslim ).
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahwa “bersabar dalam menahan pandangan mata ( bebannya ) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”

B. Al Khothorot ( pikiran yang melintas di benak ).

Adapun “Al Khothorot” ( pikiran yang terlintas dibenak ) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan ( untuk melakukan sesuatu ) yang akhirnya berubah
manjadi tekad yang bulat. Maka barang siapa yang mampu mengendalikan
pikiran pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya.
Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan ia akan terseret pada kebinasaan.
            Pikiran pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang, sehingga ahirnya dia akan manjadi angan angan tanpa makna (palsu ).  “Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang orang yang dahaga, tetapi bila ia mendatanginya maka ia tidak mendapatkannya walau sedikitpun, dan
didapatinya (ketetapan ) Allah di sisiNya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amalnya dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya.” ( QS. An Nur, 39 ). Orang yang paling jelek cita citanya dan paling hina adalah orang yang merasa puas dengan angan angan kosongnya. Dia pegang angan angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dengan senang dengannya. Padahal demi Allah, angan angan itu adalah modal orang orang yang
pailit, dan barang dagangan para pengangguran serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong, yang bisa merasa puas dengan gambaran gambaran dalam hayalan, dan angan angan palsu.

C. Al Lafazhat ( ungkapan kata kata ).
Adapun tentang Al Lafazhat (ungkapan kata kata), maka cara menjaganya adalah dengan mencegah keluarnya kata kata atau ucapan dari lidahnya, yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin berbicara, hendaklah seseorang melihat
dulu, apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak ? bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara, dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi, apakah ada kata kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata kata tersebut ? bila memang ada, maka dia tidak akan menyia
nyiakannya. Kalau anda ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, maka lihatlah ucapan lidahnya, ucapan itu akan menjelaskan kepada anda apa
yang ada dalam hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka. Yahya bin Mu’adz berkata : hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di
dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya, maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin, dan sebagainya. Ia menjelaskan
kepada anda bagaimana “rasa” hatinya, yaitu apa yang dia katakan dari lidahnya, artinya, sebagaimana anda bisa mengetahui rasa apa yang ada dalam panci itu dengan cara mencicipi dengan lidah, maka begitu pula anda bisa mengetahui apa
yang ada dalam hati seseorang dari lidahnya, anda dapat merasakan apa yang ada dalam hatinya dan lidahnya, sebagaimana anda juga mencicipi apa yang ada di dalam panci itu dengan lidah anda.
Dalam hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu yang marfu’, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :  “Tidak akan istiqomah iman seorang hamba
sehingga hatinya beristiqomah ( lebih dahulu ), dan hati dia tidak akan istiqomah sehingga lidahnya beristiqomah ( lebih dahulu ).”

D. Al Khuthuwat ( langkah nyata untuk sebuah perbuatan ).
Adapun tentang Al Khuthuwat maka hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya.
Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah ( yang boleh dikerjakan dan boleh juga ditinggalkan, pent.)
yang dilakukannya dengan cara berniat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian maka seluruh langkahnya akan bernilai ibadah. Tergelincirnya seorang hamba dari perbuatan salah itu ada dua macam : tergelincirnya kaki dan tergelincirnya lidah. Oleh karena itu kedua macam ini disebutkan sejajar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya : “Dan hamba hamba Ar Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata kata ( yang mengandung ) keselamatan.” (QS. Al Furqon, 63). Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa sifat mereka itu adalah istiqomah dalam ucapan dan langkah langkah mereka, sebagaimana Allah juga mensejajarkan antara pandangan dan lintasan
pikiran, dalam firmanNya : “Allah mengetahui khianat mata dan apa yang
disembunyikan oleh hati.” ( QS. Ghofir, 19 ). Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan bagi penjelasan akan diharamkannya zina, dan kewajiban menjaga kemaluan.


            Dari yang telah dijelaskan secara mendetail oleh Syaikhul Islam Ibnu al-Qayyim, dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa sangat tidak mungkin sekali seorang yang melakukan pacaran sama sekali tidak melakukan pandangan. Sangat jarang bahkan tidak mungkin orang yang melakukan pacaran tetapi dia masih bisa menjaga pandangannya. Padahal pandangan menurut beliau rahimahullah termasuk awal dari sebuah kebinasaan.
            Dan perlu diketahui juga bahwa yang dimaksud ghodul bashar (baca: menundukkan pandangan) artinya menjaga pandangan agar pandangan tersebut tidak menjadi lebih liar. Itulah arti ghodul bashor menurut Syaikhul Islam Ibnu al-Qayyim.
Wallahu a’lam

            Saudaraku, waktu kalian terlalu berharga untuk kalian buang begitu saja. Ingatlah firman Allah dalam QS. Al-‘Ashr. Sungguh waktu itu tidak akan pernah kembali, dia akan tetap istiqomah untuk selalu berjalan kedepan atas izin Allah.
            Aku jadi ingat pesan dari Imam Syafi’I yang mengatakan bahwa, “Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak bisa mengendalikannya maka waktu itu akan menebasmu”.
Ada satu pesan dariku.. yang mungkin itu juga saran buat diriku sendiri,. Yaitu jangan pernah dekati zina. Sungguh jangan pernah gunakan pendanganmu itu untuk menuruti hawa nafsumu. Jangan kau gunakan pandanganmu itu sebagai panah iblis.
Saudaraku, maka jagalah pandanganmu itu yang dengannya Allah akan ridho kepadamu. Ghodhul bashar saudaraku… Niatkan itu semua karena Allah semata. Niatkan tundukan pandanganmu itu sebagai rasa takutmu kepada Allah.
Mungkin ada dari kita yang masih bingung mengartikan ghodhul basharu (menundukkan pandangan) itu seperti apa sih.. Apakah jika kita rapat, kita harus menunduk selama rapat itu? kalau sedang dijalan apakah kita harus menunduk?? Mungkin tidak sampai seperti itu, tapi apa sih yang dimaksud ghodhul bashar?
Yaa.. ghodhul bashar menurut Ibnu al-Qayyim adalah menjaga pandangan agar tidak lebih liar. Jadi menundukkan pandangan itu artinya bukan selalu menunduk apabila di jalan, tetapi menjaga pandangan itu agar pandangan kita itu tidak lebih “ganas”. Tapi itu tidak menjadi arti kalau kita boleh memandang seenaknya. Karena jika memang ada seseorang yang jika kita bertemu saja, otak dan hati kita menyuruh untuk menghindar. Apabila diajak berbicara, otak dan hati kita tiba-tiba menyuruh untuk menundukkan sebagian kepala kita ke bawah atau memalingkan pandangan kita ke sudut yang lain. Jika hal ini yang terjadi maka hendaknya kita menjaga pandangan kita agar tidak lebih liar dengan memalingkan pandangan kita.

»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 16 Oktober 2011

Nilai Sebuah Ukhuwah



Persahabatan dan persaudaraan adalah suatu hal yang sangat penting di dalam Islam. Agama yang mulia ini yaitu Al-Islam telah banyak menjelaskan bagaimana pentingnya sebuah hubungan ukhuwah diantara manusia. Bagaimana Islam yang indah ini telah mengatur dengan indahnya dan dengan adilnya. Sebagai contoh “Kenapa Islam tetap menyuruh seseorang untuk tetap mengucapkan salam walaupun yang kita salami sama sekali tidak kita kenal?” salah satu hikmah dari disyariatkan hal tersebut adalah terbentuknya sebuah ukhuwah yang sangat indah diantara orang yang mengucapkan salam dengan yang disalami.. MasyaAllah..
Setiap muslim kata Rasulullah adalah saudara bagi muslim yang lain.
Inilah hadist yang tertulis jelas di dalam Hadist Ar-ba’in Imam Nawawi no. 35
Hadist di atas menjelaskan bahwa semua orang muslim itu adalah saudara atas dasar iman. Sehingga perpecahan diantara orang muslim tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Jangan jadikan perselisihan pendapat menjadi sebuah perpecahan.. ya.. yang dilarang adalah perpecahan bukan perselisihan diantara umat muslim.
Sekali lagi, aku bukan ahli hadist. Tetapi aku ingin menyampaikan satu sabda Rasulullah yang satu ini:
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir) 
Subhanallah.. bagaimana umat Islam itu adalah umat yang satu, bukan bergolong-golong. Dari sini dibutuhkannya sebuah ukhuwah yang baik diantara manusia.
Rasulullah… sebaik-baik contoh bagi kita telah menjelaskan bagaimana berhubungan baik dengan manusia. Kita semua tahu bahwa Rasulullah adalah orang yang paling amanah. Ketika diberi sebuah amanah atau tanggungjawab, Rasulullah tidak pernah menyalahi amanah tersebut. Rasulullah juga orang yang sangat dipercaya sehingga beliau diberi gelar Al-Amin. Perlu diketahui bahwa Rasulullah mendapat gelar tersebut jauh sebelum kenabian. Inilah teladan kita, Rasulullah mendapat gelar Al-Amin karena Rasulullah telah mampu berhubungan baik dengan orang lain.
Yaa… itu Rasulullah.. Berbeda dengan Nabi Musa.
Nabi Musa adalah orang yang kurang fasih dalam berkata-kata. Nabi Musa memiliki catatan sejarah yaitu pernah membunuh seseorang. Hal ini sangat berbeda dengan Rasulullah. Rasulullah adalah orang yang dipercaya. Rasulullah adalah orang yang memiliki catatan sejarah yang sangat baik karena Rasulullah memiliki nashab yang baik yaitu keturunan Bani Hasyim yang dikenal sebagai keturunan yang paling tersohor di kalangan kaum Quraisy. Dan yang terpenting Rasulullah juga sangat pandai dalam berkata-kata.. Rasul kita ini sangat pandai dalam merangkai sebuah kata hingga menghasilkan kalimat yang sangat indah dan romantis.
Melihat hal ini Nabi Musa tetap tidak menyerah untuk tetap berdakwah kepada Allah walaupun lawan yang harus didakwahi adalah Raja Fir’aun. Orang yang paling bengis, paling durjana, paling sombong hingga berani mengatakan kalau dirinya adalah Tuhan.
Hingga suatu saat Nabi Musa mendapatkan manisnya persahabatan dengan Nabi Harun. Mereka bersama-sama dalam dekapan ukhuwah membangun sebuah dakwah Tauhid kepada Allah dengan sangat indah. Walaupun Nabi Musa sulit untuk berkata-kata, tetapi atas dasar persaudaraan yang dilandasi iman yang kuat yang ada dalam hati mereka, kedua hamba Allah yang mulia ini menebarkan sebuah dakwah kepada orang yang paling sombong yaitu Fir’aun.
Inilah manisnya persaudaraan yang dilandasi oleh iman. Layaknya persaudaraan yang dilandasi oleh pertalian darah, persaudaraan seperti ini juga memiliki rasa yang sangat indah jika kita benar-benar memilikinya. MasyaAllah… memang sangat indah jika kita benar-benar bisa melakukan ssegala sesuatu itu atas dasar cinta kita kepada Allah.
Dengan dasar inilah Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Perpecahan diantara kaum muslim lebih parah daripada rubuhnya ka’bah”. Dari perkataan amirul mukminin ini, kita bisa tahu kalau hubungan persaudaraan bernilai sangat tinggi.
Saudaraku fiddin… apakah kalian lupa kalau, atau kalian Cuma menganggap enteng ketika setiap sholat Jum’at atau setiap acara kita selalu berdoa “Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat”. Apakah kalian lupa dengan mekna dari doa itu yang meminta agar Allah mengampuni dosa-dosa orang yang beriman? Apakah kalian lupa saudaraku? Hampir setiap pekan kita membaca doa itu, tapi hampir setiap hari pula kita lupa akan pentingnya persaudaraan. Padahal perlu kalian ingat bahwa doa itu juga doa persaudaraan diantara orang muslim.
Ikhwah fillah…Hubungan ukhuwah adalah suatu hal yang harus ada sebelum kita melakukan dakwah. Ya.. Merajut Ukhuwah Menebar Dakwah. Inilah slogan yang bisa kita pakai ketika kita ingin berdakwah. Layaknya Rasulullah yang selalu mengedepankan hubungan ukhuwah dengan para sahabat, bahkan dengan orang kafir sekalipun.
Ahh.. saya jadi ingat dengan satu sifat yang sangat sangat mulia dari Rasulullah yaitu selalu berperilaku baik dengan semua orang, hingga setiap orang yang bersama Rasulullah itu merasa kalau dirinyalah yang paling utama. Merasa dirinyalah yang dilebihkan oleh Rasulullah.
Hal diatas timbul dari buah persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah. Maka ikhwani fiddin.. sudah selayaknya kita mencontoh sebaik-baik contoh, teladan kita yaitu Rasulullah. Sudah selayaknya kita juga mencontoh bagaimana Rasulullah itu selalu berlaku baik kepada semua orang..ya.. “Jangan meremehkan sedikitpun tentang ma’ruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum). Begitulah sabda Rasulullah yang tertulis jelas dalam Kitab Shahih Muslim.
Saudaraku dijalan Allah… Banyak sekali manfaat yang bisa kita petik dibalik persahabatan yang dibangun erat itu. sebagai contoh misalnya sahabat itu bisa menjadi cermin bagi diri kita. Itulah yang pernah disabdakan Rasulullah bahwa “Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” Hasan, di dalam kitab Ash-Shahihah (6/923). (Abu Daud, 40-Kitab Al Adab, 49- Bab Nashihah).
Jika kamu ingin mengetahui bagaimana dirimu maka janganlah menjadi dirimu sendiri, tetapi jadilah orang lain yang bisa memantulkan bayanganmu sendiri. Saudaraku.. tentu saja ini bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi inilah fungsi dari hubungan yang baik diantara dua  insan yang saling bercinta karena Allah.
Jadilah saudara yang baik bagi orang lain layaknya sikap baik kita kepada saudara yang didasari atas pertalian darah. Jadilah orang yang berguna bagi saudara kalian. Yaa.. tentu saja karena Allah, bukan karena yang lain. Lagi-lagi aku juga ingat sebuah tulisan yang aku baca dalam buku karangan Ustadz Salim A. Fillah yang berjudul “Dalam dekapan Ukhuwah”
Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan terasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
Hanya iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
Aku juga ingin bercerita sedikit mengenai sebuah persahabatan diantara dua orang yang ditulis oleh Imam Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dalam bukunya Madarijus Salikin dari cerita yang dibawakan oleh Imam Ibnu Sirin. Kemudian kisah ini ditulis ulang oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam buku karangannya yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah.
“Alangkah indahnya,” begitu Ibnu Sirin memulai cerita, “Kisah dua orang bersaudara di jalan Allah yang pada mulanya saling mencintai. Lalu hubungan di antara mereka terganggu.
Satu waktu mereka bertemu. “Mengapa kiranya,” Tanya lelaki pertama, “Hari-hari ini aku melihatmu seolah engkau berpaling dan menjauhiku?”
“Telah sampai padaku,” jawab orang yang kedua, “Sesuatu tentang dirimu. Dan engkau pasti tidak menyukainya.”
“Kalau begitu, aku tak peduli,” lelaki pertama itu tersenyum.
“Mengapa?”
“Karena jika apa yang engkau dengar itu adalah benar sebuah kesalahan yang telah aku lakukan, aku tahu engkau pasti akan memaafkannya. Dan jika berita itu tidak benar, engakau pasti tidak akan menerimanya.”
“setelah itu,” kata Ibnu Sirin menutup kisah, “Mereka kembali pada ukhuwah yang indah.”
Saudaraku… mungkin aku juga sadar kalau aku belum bisa seperti yang telah dipaparkan di atas. Tetapi aku Cuma ingin berpesan dengan satu hadist Rasulullah ini.
Orang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasallam lalu beliau menautkan antar jari-jemarinya. (Muttafaq ‘alaih)
Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya (tidak peduli padanya), menghinanya.” (HR. Muslim)
Semoga bermanfaat, Wallahu waliyut taufiq
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 03 September 2011

Tiga Unsur Cinta



Bismillahirrahmanirrahim,

Tulisan ini aku tulis dari hati yang masih belum bersih. Jadi ketika aku nulis tulisan ini bisa saja aku mengkritik diri saya pribadi ^_^  #malah gak jelas
Ya udah kita mulai aja pembahasan kita mengenai unsur yang harus ada dalam cinta.
Akhir-akhir ini aku sempat heran soalnya banyak diantara ikhwan fillah yang sangat mudah sekali mengucapkan “uhibuka fillah”. Ya.. mereka sangat mudah sekali melontarkan kata yang sangat indah itu.. “Aku mencintaimu karena Allah” Mereka rangka kata ini dengan kata yang lain hingga membentuk sebuah tatanan kata yang sangat indah.
Yang aku sempat herankan, apakah hal itu bisa dibilang cinta? Bahkan lebih ngerinya lagi mereka membawa nama Allah.. Aku juga tahu sobat kalau cinta itu fitrah, cinta itu mendatangkan sebuah kenikmatan.. yaa kenikmatan, apalagi kalau mambawa nama Allah. Itu akan menambah rasa indah dalam hati kita..
Tapi ikhwani fiddin.. apakah kalian yakin kalau rasa itu adalah cinta, bukan nafsu? Yaa “aku mencintaimu karena Allah”. Sobat.. apakah kalian yakin kalau Allah akan ridho dengan kata yang kalian lontarkan itu?? Memang dilihat dari arti katanya, itu adalah kalimat yang suci karena membawa nama Allah. Dan bukannya aku mau menolak kalimat yang indah itu, kawan.. bukan.. tapi aku cuma takut kalau Allah gak ridho ketika aku melontarkan kalimat indah itu.
             “Apakah rasa seperti itu bisa dikatakan cinta? Apakah Allah akan ridho dengan rasa itu? Aku takut kalau Allah bukannya ridho tapi malah cemburu. Tapi aku lebih takut lagi kalau Allah sama sekali tidak cemburu.” Pesan dari kawan akrab SMA-ku Haidar Muhammad Tilmitsani.
Pesan dari kawanku itu seakan membunuhku, kata itu seakan menebasku. Terima kasih sobat engkau telah memberi nasehat terbaikmu.. kok malah jadi mbahas ini..
Ikhwani fillah.. yo kita masuk ke pembahasan “Unsur Dalam Cinta”.
 Cinta itu harus memenuhi tiga unsur yaitu:
Aku cinta kamu karena Allah, Dengan Ridhonya Allah, dan Dalam rangka mencari keridhoan dari Allah. –Salim A. Fillah-- 

Aku Mencintaimu Karena Allah

Menurut aku sendiri yang harus ada dalam sebuah cinta adalah persaksian bahwa cintanya itu karena Allah.. bukan karena harta, bukan karena jabatan, bukan karena kecantikan, ataupun yang lain. Kita harus menyertakan cinta kita kepada Allah dalam bercinta dengan lawan jenis. Seperti kata temanku, “Ketika kamu mencari cinta Allah, maka cinta kepada sesamapun akan kamu dapat. Tetapi jika yang kamu cari adalah cinta kepada sesama, maka cinta Allah tidak kamu dapat”. 
Maka ketika kalian mencintai lawan jenis bukan karena Allah, maka jelas bahwa rasa itu tidak bisa dikatakan “cinta” tetapi “nafsu”. Aku cukup heran dengan remaja sekarang yang hamper semuanya mengatakan kalau pacaran itu cinta.. Cinta darimana? Yang ada hanya nafsu yang diumbar bukan sebuah cinta yang indah..
Jika kalian menganggap pacaran, kasmaran, atau istilah-istilah cowo’ (bukan ikhwan) zaman sekarang sebagai bentuk cinta, berarti kalian menganggap bahwa Rasulullah, para sahabat, para tabi’in, tabiut tabi’in itu tidak memiliki cinta?? Jelas mereka tidak pernah pacaran sebelum menikah, tapi tidak berarti mereka tidak memiliki cinta..
Saudaraku Muhammad Haidar Tilmitsani pernah memberikan sebuah pelajaran kepadaku bahwa cinta itu bisa diangsur.. ketika itu aku bingung maksud dari di”angsur” itu apa. Kemudian saudaraku itu mengatakan, “kalau sebelum nikah kamu udah pernah merasakan pacaran dan mengumbar nafsu, maka cintamu kepada isterimu akan berkurang karena pacaran itu”. Lagi-lagi ini adalah nasehat yang sangat berarti bagiku.
Inti dari pembahasan kita kali ini yaitu cinta itu berbeda dengan nafsu. Cinta itu hal yang fitrah dah itu diperbolehkan. Ketika seorang ikhwan sedang mengalami cinta, maka semakin besar dia ingat kepada Allah. Sedangkan jika nafsu itu akan melalaikan seseorang dari Allah.
Dengan Ridho Allah

Ini adalah unsur kedua yang juga harus ada dalam sebuah cinta. Jadi saudaraku, tidak cukup hanya dengan “Aku cinta kamu karena Allah” tetapi harus “Dengan Ridhonya Allah”. Rasa itu bisa dikatakan cinta jika Allah telah ridho. Beda dengan nafsu yang sudah jelas Allah tidak ridho. Maka dari itu dalam mencintai seseorang wajib hukumnya untuk tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist. Dan satu-satunya jalan untuk melegalkan cinta adalah sebuah mitsaqon gholidzon (perjanjian yang teguh).. yaa sebuah perjanjian yang suci yaitu pernikahan..
Hanya dengan pernikahanlah kita bisa berpacaran dengan bidadari kita. Bidadari yang akan setia di dunia dan di surga. Bidadari yang ketika aku membayangkan saja, tambahlah keimananku kepada Allah, tambahlah kecintaanku kepada Allah. Bidadari yang mengajakku untuk selalu beribadah kepada Allah, selalu mengingat Allah..amin..
Ikhwani fiddin… tapi gimana kalau rasa itu telah hadir jauh sebelum kita siap untuk mengucapkan janji setia itu?? yaa.. ada sebagian saudara kita yang udah merasakan hal itu, tetapi yang harus dia pegang adalah tetap dengan ridho Allah. Maka ketika kita belum siap untuk menikah, cintailah dia dalam diam. Jagalah jarak dengannya. Tundukan pandanganmu akh.. karena itu lebih baik bagimu untuk saat ini. Karena itu akan lebih indah pada waktunya kelak. Tetap jaga izzah dan iffah kalian sebagai seorang ikhwan. Mungkin dengan itu Allah akan ridho denganmu dan akan mengobati kerinduan hatimu itu.. saranku hanya satu yaitu “ishbir”.. bersabarlah.. hingga ada sebuah ikatan yang suci yang disertai doa para malaikat.
Dalam Rangka Mencari Keridhoan Allah

Setelah kalian bisa melewati dua unsur diatas dan setelah kalian melakukan penyempurnaan iman kalian yaitu dengan sebuah pernikahan, maka unsure yang harus ada adalah “dalam rangka mencari keridhoan dari Allah”.. yaa setelah kalian dihalalkan atas isterimu, disitulah Allah telah ridho kepada kalian ketika sudah menikah.
Ketika sudah sampai ke jenjang ini, jenjang yang menghalalkan yang awalnya haram, jenjang yang mengubah dosa menjadi pahala. Hanya ditahap inilah Allah akan sangat menyukai hambaNya yang saling berkasing sayang yaitu antara suami dengan isterinya.
Jadikanlah cintamu itu untuk mencari ridhoNya Allah semata yaitu dengan saling berkasing sayang dan meluapkan rasa cinta antara suami dan isteri. Di sini telah jelas bahwa rasa cinta dan kasih sayang suami kepada isterinya atau sebaliknya dinilai sebagai sebuah ibadah.
Intinya berpacaranlah sesudah kalian menikah, karena dengan itulah Allah akan ridho kepada kita. Tebarkanlah rasa cinta itu, setelah kalian memendam rasa itu ketika kalian belum dihalalkan.. Subhanallah Islam ini memang indah, bagaimana agama ini mengatur sebuah cinta. Dan tentu saja harus tetap berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Contohlah bagaimana Rasulullah berpacaran dengan isteri-isterinya. Contoh pula para sahabat Nabi yang juga sangat pandai dalam bercintai. Telah jelas bahwa tidak orang yang seromantis Rasulullah, maka contohlah beliau.
Wallahu a’lam
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 01 September 2011

LAA TAHZAN YAA IKHWAH FILLAH


Yaa Ikhwah Fillah (untuk Ikhwan maupun Akhwat)
Sebagai seorang muslim kita tidak boleh bersedih dengan apa yang terjadi dengan kita. Sebagai seorang muslim maupun muslimah selayaknya kita menerima (qanaah) terhadap segala yang ditentukan oleh Allah. Kita bersedih mungkin saja karena sesuatu yang kita inginkan, sesuatu yang kita impikan itu tidak kita dapatkan atau tidak kita capai…
Tapi yakinlah wahai saudaraku.. yakinlah wahai akhi wa ukhti bahwa Allah mempunyai rencana yang lain dibalik itu semua . Mungkin saja apa yang kita inginkan tersebut bukanlah yang Allah sukai, atau bahkan sesuatu yang kita cita”kan tersebut bukanlah sesuatu yang nantinya akan mendatangkan barokah..
Ketika banyak saudara kita yang merasa sedih ketika seseorang yang menurut pandangan kita adalah yang kita sayangi tiba tiba mengkhianati kata “uhibuka fillah atau uhibuki fillah” yang dulu mereka lontarkan.. Aku sendiri juga heran kenapa saudara kita banyak yang dengan entengnya mengatakan kata yang sangat suci dan penuh syarat yaitu “uhibuka/uhibuki fillah”. Entahlah apa yang ada dibenak mereka..
Kemudian mereka setelah mengucapkan kata tersebut terus pacaran, berkhalwat, atau bahkan lebih buruk daripada itu. Bahkan sangat mungkin sekali mereka kemudian berpisah sebelum mereka resmi menjadi satu ikatan suci..   Astaghfirullah padahal ada beberapa tahap dalam mencintai seseorang…
Sekali lagi aku hanya bisa mengatakan “Laa Tahzan”.
Ketika kita menyimpan rasa cinta kita hingga pada kemudian hari orang yang kita simpan dalam hati kita telah dilamar oleh saudara kita yang lain mungkin kita akan merasakan sedikit sedih.. tapi yakinlah bahwa  Allah memiliki rahasia dibalik itu semua, maka jangan bersedihlah wahai ikhwah.
Hal ini pernah dialami oleh Imam Ali bin Abi Thalib ketika Fatimah yang sudah sejak lama dicintai oleh Ali tiba-tiba dilamar oleh dua sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar. Tetapi subhanallah, Ali dengan keteguhan imannya telah merelakan Fatimah karena menurut Ali kedua sahabatnya itu jauh lebih baik dibandingkan dirinya baik dari segi harta maupun yang lain.  
Marilah kita contoh sikap yang sangat mulia dari Ali ini walau pada akhirnya memang Ali-lah yang ditakdirkan Allah sebagai pendamping seorang Fatimah.
Tapi entahlah, aku kan seorang ikhwan, mungkin hal ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kaum hawa yang memang Allah telah menakdirkan mereka untuk menyertakan hati ketika berfikir.
Mungkin ada akhwat yang sempat merasakan sedih karena seorang ikhwan yang ada di hatinya itu milik orang lain, atau mungkin ada sebagian akhwat yang merasakan lamarannya dibatalkan oleh pihak yang ikhwan.  Untuk itu dibutuhkan sebuah pertimbangan yang besar dalam hal ini, karena ini menyangkut persoalan mitsaqon gholidzon (perjanjian yang teguh)
Jika hal ini yang terjadi pastilah, seorang akhwat atau ikhwan akan merasakan tahzan, padahal tahzan adalah salah satu cara syetan untuk menjerumuskan manusia. Maka dari itu sebisa mungkin kita menghindari rasa tahzan (sedih).
Yakinlah saudaraku jika kita niatkan semua hal yang terjadi pada kita karena Allah, maka sekalipun Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.
Wallahu a’lam.. karena hanya Allah yang mengetahui dibalik semua rahasia besar yang telah dibuat-Nya yang telah tertulis di kitab-Nya itu.
INNALLAHA MA’ANA YAA IKHWAH

Memang untuk menghilangkan rasa tahzan itu bukan sesuatu yang mudah. Butuh suatu proses untuk memahami hal ini. Apalagi kalau penyebab kita tahzan adalah masalah hati J, tapi ketahuilah bahwa jodoh itu benar-benar mutlak haknya Allah. Yang harus dipersiapkan untuk menyembut jodoh kita adalah diri kita sendiri, jika diri kita telah baik InsyaAllah jodoh kitapun akan baik. Kok malah jadi mbahas masalah jodoh ???
Oke.. Saudaraku fiddin.. Rasa tahzan adalah rasa yang sangat mungkin bisa menyerang semua orang bahkan dikalangan orang yang hatinya untuk Allah sekalipun. Bukan tidak mungkin seorang ikhwan (bukan cowo) itu sama sekali tidak merasakan tahzan, bahkan ada sebagian diantara ikhwan yang penyebab rasa tahzan-nya adalah masalah hati.
Tapi yakinlah bahwa Allah itu bersama kita, Allah akan tetap ada walau kita sering lupa kepada-Nya. Mintalah pendapat sama Allah karena hanya Allah-lah yang tahu solusi yang terbaik..  Curhatlah dengan Allah, mungkin dengan itu kamu akan merasa lebih baik.. malah bukan hanya mungkin, tapi kamu benar-benar akan merasakan kedamaian hati.
Cintailah Allah saudaraku, karena hanya cinta itulah yang jelas” suci, jelas tidak akan mengecewakan dan tentu saja tidak akan membuat sedih. Ahh.. aku ingat pesan salah seorang saudaraku, “Ketika kau menggapai cinta Allah, maka cinta sesamapun akan kau dapat. Tapi sebaliknya jika kau mencari cinta makhluk, maka kamu tidak akan mendapat cinta Allah”. Pesan ini sungguh menusuk bagiku. Apakah aku salah seorang yang mencintai Allah? Atau malah sebaliknya?
BERDOA

Subhanallah, ternyata Allah telah memberikan satu kunci untuk benar-benar bisa memecahkan masalah, yaitu dengan doa. Karena tidak ada yang bisa menyelesaikan sebuah masalah kecuali Allah semata. Ingat itu wahai ikhwah fiddin…
Aku memang bukan ahli dalil, tapi gak ada salahnya aku hadirkan beberapa dalil ini,

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)
Rasulullah bersabda, “Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan hatinya). H.R. Al-Baihaqi.
Dua dalil diatas adaah sebagian dalil yang menyuruh kita untuk berdoa. Bermunajatlah kepada Allah, mintalah kepada Allah sebuah solusi dari kesedihan yang sedang kalian alami. Bersujudlah di sepertiga akhir malam, itu adalah waktu yang sangat cocok untuk bermunajat untu curhat dengan Sang Pembolak-balik Hati Manusia, Sang Pengarah Hati, dialah Allah Azza Wa Jalla.
ALLAH MENGETAHUI SEGALA SESUATU

Sebelum aku member komentar, ijinkan aku membawakan dalil dari Al-Quran Surat Al-An’am: 56,
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Q.S. Al-An'am:59)
Dari dalil diatas kita tahu bahwa Allah itu mengetahui segalanya, Allah mengetahui yang ghoib dan yang syahadah (dapat disaksikan). Menurut Syaikh Sholih Al-Fauzan, “Allah itu mengetahui segala yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan sesuatu yang tidak ada bagaimana jika hal tersebut ada”. Sudah jelas adanya kalau Allah itu mengetahui masalah yang kita sedihkan, masalah hati kita.
Percayalah bahwa ada Allah yang mengetahui segalanya, mintalah jalan keluar terbaik dari Allah. Jika hal itu masalah hati, mintalah agar Allah memberikan jawaban terbaik untuk hati yang sedang tahzan ini.
Akhir dari artikel ini, saya hanya berpesan untuk saudaraku yang sedang dilanda rasa tahzan, marilah sobat kita hapus rasa tahzan itu karena sesungguhnya Allah bersama kita jika kita memang orang-orang yang beriman. Berdoalah dan bermunajat kepada Allah karena hanya Allah-lah yang mengetahui jalan keluar terbaik dari setiap masalah yang sedang kita alami.
Wallahu Ta’ala a’lam..


»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 16 Agustus 2011

Cinta Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah




Ibnu Qayyim rahimahullâh pernah berkata dalam kitab al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa'ala ‘an ad-Dawâ' asy-Syâfî (Jawaban Konkrit Bagi Mereka yang Menanyakan Obat Manjur):

“Kasih sayang adalah penyebab hati dan ruh menjadi hidup terpelihara. Hati tidak akan merasa tenteram, nikmat, beruntung, dan merasa hidup bila tanpa cinta. Seandainya hati tanpa cinta, sakitnya lebih terasa daripada mata terasa sakit ketika tidak bisa lagi melihat cahaya, telinga ketika tidak bisa lagi mendengar, hidung ketika tidak bisa lagi mencium, lisan ketika tidak mampu lagi berbicara. Bahkan, hati pun bisa menjadi rusak apabila hampa dari kasih sayang yang sudah merupakan fitrah dalam jiwa manusia. Ia adalah sebuah karunia yang diberikan Sang Pencipta. Oleh karena itu, rusaknya lebih parah daripada kerusakan tubuh manusia yang diisi dengan ruh, dan ini tidak mungkin bisa dikatagorikan menjadi sesuatu yang pasti kecuali orang yang memiliki jiwa yang selalu hidup.”

Ibnu Qayyim rahimahullâh berkata dalam kitab ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat):

“Mencintai wanita itu terbagi tiga, yaitu:
Bagian pertama dan kedua adalah “pendekatan” dan “ketaatan”. Yang termasuk kategori ini dapat dimisalkan seperti mencintai seorang istri. Bentuk cinta semacam ini sangat bermanfaat karena bagaimanapun ia merupakan salah satu syariat yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam melaksanakan pernikahan. Karena, pernikahan dapat menghindarkan pandangan mata dan hati dari perbuatan semu yang dilarang Islam. Maka dari itulah Allah ta’ala, Rasul-Nya Muhammad saw., dan seluruh manusia menjunjung tinggi martabat pecinta semacam ini.

Sedangkan bagian ketiga adalah “cinta mubah” (cinta yang dibolehkan), seperti cinta seorang laki-laki ketika disebutkan kepadanya sosok seorang wanita jelita, atau ketika seorang laki-laki melihat wanita secara kebetulan lalu hatinya terpaut kepada wanita tersebut, dengan catatan tidak ada unsur maksiat dalam jatuh cinta itu. Cinta semacam ini pelakunya tidak dibebani dosa dan siksa, namun lebih baik menghindar dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan yang lebih bermanfaat lagi positif serta wajib baginya merahasiakan hal itu. Apabila menjaga dan sabar terhadap suatu hal yang berbau negatif, niscaya Allah ta’ala akan memberikan ganjaran pahala kepadanya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”

Ibnu Qayyim rahimahullâh tentang cinta yang terpuji:

“Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.”

Ibnu Qayyim rahimahullâh dalam kitab ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat):

“Cinta membangkitkan jiwa dan menata prilaku. Mengungkapkannya adalah suatu kewajaran dan memendamnya menjadi beban.” Lalu, beliau berkata: “Mereka berucap: ‘Kita tidak memungkiri kerusakan cinta jika terbumbui oleh perbuatan tercela kepada sesama makhluk. Yang kita dambakan adalah cinta suci dari seorang laki-laki idaman yang selalu komitmen kepada agama, kehormatan, dan akhlak. Jangan sempat cinta itu menjadi jurang pemisah antara menusia dengan Khaliq-nya dan menyebabkan antara pecinta dengan yang dicintainya jatuh ke dalam perbuatan nista


diambil dari http://tasyapoenya.blogspot.com/2010/07/cinta-menurut-ibnu-qayyim-al-jawziyah.html
»»  Baca Selengkapnya...