Hadits of The Day

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ

Kamis, 24 November 2011

Adakah Pacaran Yang Islami??



Mungkin ada diantara kita yang mengatakan, yang gak boleh itu kan zina.. Lantas gimana kalau dalam pacaran itu sama sekali tidak ada syahwat??
Hati-hatilah dengan pikiran-pikiran yang seperti ini yang bisa saja meracuni diri kalian. Mana ada pacaran yang islami. Kalau gitu berarti ada judi islami, ada zina islami, ada nyuri islami dsb.
Mereka mengatakan berdua-duaan itu boleh asalkan ada yang mengawasi, mereka berpendapat memegang tangan lawan jenis bukan mahrom dengan tidak nafsu itu masih boleh. Saudaraku, hadistnya itu jelas, Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan). Kalau seandainya memegang tangan lawan jenis yang bukan mahrom itu diperbolehkan berarti secara tidak langsung ketika saya diperbolehkan memegang tangan seorang akhwat yang tidak ada nafsu, maka secara tidak langsung saya mengejek akhwat tersebut kalau kamu jelek karena saya sama sekali tidak nafsu denganmu. Ketika kondisi ini terjadi berarti Islam mengatur sebuah ketidakadilan. Islam memberikan sebuah peraturan yang bisa melukai hati seseorang.. SAYANGNYA TIDAK!!! ISLAM ADALAH AGAMA YANG ADIL, ISLAM ADALAH AGAMA YANG INDAH!!!
Mungkin untuk memperjelas pembahasan kita, saya akan menghadirkan pendapat ulama yang sangat terkenal, baik terkenal dalam hal fikih, maupun dalam hal hati, yaitu Syaikhul Islam Ibnu al-Qayyim
Dalam bukunya yang berjudul Jangan Dekati Zina, ada satu bab yang sangat menarik sekali yaitu EMPAT PINTU MASUKNYA MAKSIAT PADA MANUSIA (hal 11)
Empat hal tersebut yaitu:                         .
A.Al Lahazhat ( Pandangan pertama).
Yang satu ini bisa dikatakan sebagai ‘provokator’syahwat, atau ‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. Maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:  “Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.” ( HR. At Turmudzi, hadits hasan ghorib ).
Dan di dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam , beliau bersabda : “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ihlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat.” ( HR. Ahmad )..
Beliau juga bersabda : “Palingkanlah pandangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.” (HR. At Thobrani dalam Al mu’jam al kabir ).
Dalam hadits lain beliau bersabda : “Janganlah kalian duduk duduk di ( tepi ) jalan”, mereka berkata : “ya Rasulallah, tempat tempat duduk kami pasti di tepi jalan”, beliau bersabda :“Jika kalian memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu”, mereka bertanya : “Apa hak jalan itu ?”, beliau menjawab : “Memalingkan pandangan ( dari hal hal yang dilarang Allah, pent.), menyingkirkan gangguan, dan menjawab salam.” ( HR. Muslim ).
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahwa “bersabar dalam menahan pandangan mata ( bebannya ) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”

B. Al Khothorot ( pikiran yang melintas di benak ).

Adapun “Al Khothorot” ( pikiran yang terlintas dibenak ) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan ( untuk melakukan sesuatu ) yang akhirnya berubah
manjadi tekad yang bulat. Maka barang siapa yang mampu mengendalikan
pikiran pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya.
Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan ia akan terseret pada kebinasaan.
            Pikiran pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang, sehingga ahirnya dia akan manjadi angan angan tanpa makna (palsu ).  “Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang orang yang dahaga, tetapi bila ia mendatanginya maka ia tidak mendapatkannya walau sedikitpun, dan
didapatinya (ketetapan ) Allah di sisiNya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amalnya dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya.” ( QS. An Nur, 39 ). Orang yang paling jelek cita citanya dan paling hina adalah orang yang merasa puas dengan angan angan kosongnya. Dia pegang angan angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dengan senang dengannya. Padahal demi Allah, angan angan itu adalah modal orang orang yang
pailit, dan barang dagangan para pengangguran serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong, yang bisa merasa puas dengan gambaran gambaran dalam hayalan, dan angan angan palsu.

C. Al Lafazhat ( ungkapan kata kata ).
Adapun tentang Al Lafazhat (ungkapan kata kata), maka cara menjaganya adalah dengan mencegah keluarnya kata kata atau ucapan dari lidahnya, yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin berbicara, hendaklah seseorang melihat
dulu, apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak ? bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara, dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi, apakah ada kata kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata kata tersebut ? bila memang ada, maka dia tidak akan menyia
nyiakannya. Kalau anda ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, maka lihatlah ucapan lidahnya, ucapan itu akan menjelaskan kepada anda apa
yang ada dalam hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka. Yahya bin Mu’adz berkata : hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di
dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya, maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin, dan sebagainya. Ia menjelaskan
kepada anda bagaimana “rasa” hatinya, yaitu apa yang dia katakan dari lidahnya, artinya, sebagaimana anda bisa mengetahui rasa apa yang ada dalam panci itu dengan cara mencicipi dengan lidah, maka begitu pula anda bisa mengetahui apa
yang ada dalam hati seseorang dari lidahnya, anda dapat merasakan apa yang ada dalam hatinya dan lidahnya, sebagaimana anda juga mencicipi apa yang ada di dalam panci itu dengan lidah anda.
Dalam hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu yang marfu’, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :  “Tidak akan istiqomah iman seorang hamba
sehingga hatinya beristiqomah ( lebih dahulu ), dan hati dia tidak akan istiqomah sehingga lidahnya beristiqomah ( lebih dahulu ).”

D. Al Khuthuwat ( langkah nyata untuk sebuah perbuatan ).
Adapun tentang Al Khuthuwat maka hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya.
Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah ( yang boleh dikerjakan dan boleh juga ditinggalkan, pent.)
yang dilakukannya dengan cara berniat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian maka seluruh langkahnya akan bernilai ibadah. Tergelincirnya seorang hamba dari perbuatan salah itu ada dua macam : tergelincirnya kaki dan tergelincirnya lidah. Oleh karena itu kedua macam ini disebutkan sejajar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya : “Dan hamba hamba Ar Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata kata ( yang mengandung ) keselamatan.” (QS. Al Furqon, 63). Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa sifat mereka itu adalah istiqomah dalam ucapan dan langkah langkah mereka, sebagaimana Allah juga mensejajarkan antara pandangan dan lintasan
pikiran, dalam firmanNya : “Allah mengetahui khianat mata dan apa yang
disembunyikan oleh hati.” ( QS. Ghofir, 19 ). Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan bagi penjelasan akan diharamkannya zina, dan kewajiban menjaga kemaluan.


            Dari yang telah dijelaskan secara mendetail oleh Syaikhul Islam Ibnu al-Qayyim, dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa sangat tidak mungkin sekali seorang yang melakukan pacaran sama sekali tidak melakukan pandangan. Sangat jarang bahkan tidak mungkin orang yang melakukan pacaran tetapi dia masih bisa menjaga pandangannya. Padahal pandangan menurut beliau rahimahullah termasuk awal dari sebuah kebinasaan.
            Dan perlu diketahui juga bahwa yang dimaksud ghodul bashar (baca: menundukkan pandangan) artinya menjaga pandangan agar pandangan tersebut tidak menjadi lebih liar. Itulah arti ghodul bashor menurut Syaikhul Islam Ibnu al-Qayyim.
Wallahu a’lam

            Saudaraku, waktu kalian terlalu berharga untuk kalian buang begitu saja. Ingatlah firman Allah dalam QS. Al-‘Ashr. Sungguh waktu itu tidak akan pernah kembali, dia akan tetap istiqomah untuk selalu berjalan kedepan atas izin Allah.
            Aku jadi ingat pesan dari Imam Syafi’I yang mengatakan bahwa, “Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak bisa mengendalikannya maka waktu itu akan menebasmu”.
Ada satu pesan dariku.. yang mungkin itu juga saran buat diriku sendiri,. Yaitu jangan pernah dekati zina. Sungguh jangan pernah gunakan pendanganmu itu untuk menuruti hawa nafsumu. Jangan kau gunakan pandanganmu itu sebagai panah iblis.
Saudaraku, maka jagalah pandanganmu itu yang dengannya Allah akan ridho kepadamu. Ghodhul bashar saudaraku… Niatkan itu semua karena Allah semata. Niatkan tundukan pandanganmu itu sebagai rasa takutmu kepada Allah.
Mungkin ada dari kita yang masih bingung mengartikan ghodhul basharu (menundukkan pandangan) itu seperti apa sih.. Apakah jika kita rapat, kita harus menunduk selama rapat itu? kalau sedang dijalan apakah kita harus menunduk?? Mungkin tidak sampai seperti itu, tapi apa sih yang dimaksud ghodhul bashar?
Yaa.. ghodhul bashar menurut Ibnu al-Qayyim adalah menjaga pandangan agar tidak lebih liar. Jadi menundukkan pandangan itu artinya bukan selalu menunduk apabila di jalan, tetapi menjaga pandangan itu agar pandangan kita itu tidak lebih “ganas”. Tapi itu tidak menjadi arti kalau kita boleh memandang seenaknya. Karena jika memang ada seseorang yang jika kita bertemu saja, otak dan hati kita menyuruh untuk menghindar. Apabila diajak berbicara, otak dan hati kita tiba-tiba menyuruh untuk menundukkan sebagian kepala kita ke bawah atau memalingkan pandangan kita ke sudut yang lain. Jika hal ini yang terjadi maka hendaknya kita menjaga pandangan kita agar tidak lebih liar dengan memalingkan pandangan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar